Perampokan Maguan Ternyata Direncanakan Sejak 15 Mei 2016

Selasa, 2 Agustus 2016 | 14:13 WIB
Honda Beat, salah satu sarana beraksi para pelaku perampokan pedagang emas saat digelar pada jumpa pers di Mapolres Rembang, Selasa (2/8/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Honda Beat, salah satu sarana beraksi para pelaku perampokan pedagang emas saat digelar pada jumpa pers di Mapolres Rembang, Selasa (2/8/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Perampokan yang berujung tewasnya pedagang emas bernama Sarno di kediamannya di Dukuh Sawahan Desa Maguan Kecamatan Kaliori, ternyata sudah direncanakan sejak 15 Mei 2016.

Awalnya, menurut keterangan polisi mengutip hasil pemeriksaan terhadap 5 tersangka pelaku yang kini telah diamankan di Mapolres Rembang, SW bertemu dengan UB dan salah seorang buron pada Senin 15 Mei 2016 pukul 23.00.

Ketiganya saling kenal sejak sama-sama menjalani hukuman di Rutan Pati. Di pertemuan itu, SW menyuruh UB dan salah satu buron mencari pemain untuk merampok rumah Sarno. UB dan salah seorang buron lalu menghubungi AG dan JN yang berada di Tuban, Jawa Timur.

“Saya tahu, korban orang kaya. Busnya banyak,” ujar SW kepada awak media saat jumpa pers di Mapolres Rembang, Selasa (2/8/2016) pagi.

Pada 28 Mei 2016 sekitar pukul 20.00 WIB; UB, salah satu buron, AG, dan JN bertemu untuk merencanakan aksi perampokan dengan peran yang dibagi oleh AG. Mereka lalu menyurvei rumah korban dengan mengendarai empat sepeda motor.

Agar aksinya nanti berjalan lancar, mereka membutuhkan dua orang lagi sebagai joki. UB pun menghubungi seorang buron lainnya dan HD untuk ikut berperan sebagai joki atau orang yang mengantar.

Minggu 29 Mei 2016 pukul 00.10; UB, salah satu buron, AG, JN, buron lainnya, dan HD berkumpul di pinggir jalan dekat Kantor Balai Penelitian Pertanian di Kecamatan Jaken Kabupaten Pati, guna membahas perencanaan aksi perampokan.

Peran mereka dibagi oleh AG. UB, AG, salah satu buron, dan JN, berperan sebagai orang yang masuk ke dalam rumah korban, sedangkan buron lainnya dan HD berperan sebagai joki atau yang mengantar.

20 menit berselang, mereka berangkat menuju rumah korban dengan menggunakan sepeda motor jenis Honda Revo warna hitam dan Honda Beat warna merah masing-masing berboncengan tiga.

Honda Revo dikendarai HD (depan), salah satu buron (tengah), dan JN (belakang), sedangkan Honda Beat dikendarai buron lainnya (depan), UB (tengah), dan AG (belakang).

Salah satu buron membawa linggis kecil, sedangkan di dalam jok Revo terdapat obeng, sarung tangan, dan lakban. Para pelaku itu membawa penutup muka berupa masker dan sleyer.

Sekitar 15 menit kemudian, para pelaku sudah sampai di pinggir jalan berjarak 500 meter utara rumah korban. Selanjutnya UB, AG, salah satu buron, dan JN, turun menuju rumah korban lewat sawah dan masuk rumah korban dari arah belakang dan membawa alat yang telah disiapkan.

Sekitar pukul 01.00 WIB; UB, AG, salah satu buron, dan JN sampai di belakang rumah korban. AG membuka kunci pintu dapur pertama dengan menggunakan obeng. Selanjutnya dicongkel menggunakan linggis.

Kemudian, AG dan salah satu buron masuk ke rumah dan membuka pintu dapur kedua dengan cara mencongkel dengan menggunakan linggis. Selanjutnya AG dan salah satu buron masuk ke dalam rumah dan memastikan situasi dalam rumah korban.

Setelah memastikan situasi rumah, AG dan salah satu buron menghampiri UB dan JN yang masih berada di belakang rumah, kemudian AG membagi tugas bahwa AG dan salah satu buron yang menyekap korban laki-laki, sedangkan UB dan JN yang menyekap korban perempuan.

Kemudian kedua korban disekap dengan cara mulut dan mata dilakban serta tangan dikikat menggunakan tali plastik. AG menanyakan kunci brankas tempat penyimpanan emas dan uang kepada korban perempuan namun korban perempuan lupa menaruhnya.

AG memaksa korban perempuan dengan cara menendang perut korban agar menunjukkan kunci brankas. AG menghampiri korban laki-laki dan menyeret korban Sarno keluar dari kamar serta membentur-benturkan kepala korban tersebut ke tembok dan lantai.

Korban perempuan menunjukkan kunci brankas kepada UB kemudian UB membuka brankas. UB, AG, salah satu korban, dan JN lalu bersama-sama mengeluarkan isi brankas berupa perhiasan emas (dua kilogram) dan uang (Rp60juta), selanjutnya dimasukkan ke dalam tas.

Setelah menguras habis isi brankas, keempat pelaku membawa barang hasil pencurian melalui pintu belakang rumah korban. Selanjutnya AG menghubungi GN dan HD untuk menjemput di tempat pertama kali diturunkan.

Keenam pelaku menggunakan dua SPM menuju arah utara sampai di Jalan Pantura para pelaku memisahkan diri. AG, salah satu buron, dan JN menuju ke arah timur, sedangkan HD, buron yang lain, dan UB menuju arah barat dengan membawa hasil curian.

Minggu (29/5/2016) pagi pukul 08.30 WIB, anak korban yang bernama Maghfirah dan Ahmad Sodikin serta menantu korban bernama Jalal datang ke rumah korban, namun pintu terkunci.

Karena merasa curiga, ketiganya masuk ke rumah korban melalui pintu belakang yang sudah terbuka sebelumnya dan mengetahui kedua korban dalam keadaan mulut dan mata dilakban serta tangan terikat tali plastik tidak berdaya.

Damisih, ibu mereka; di atas tempat tidur, sedangkan ayahnya, Sarno, berada di lantai bersimbah darah dan telah meninggal dunia, kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Kaliori.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan