Penyuluh Petani Tolak Kebijakan Impor Beras

Minggu, 21 Januari 2018 | 13:44 WIB

Panen padi petani di Desa Pangkalan Kecamatan Sluke, Sabtu (21/1/2018). (Foto: mataairradio.com)

SLUKE, mataairradio.com – Penyuluh petani di Kabupaten Rembang menolak kebijakan Pemerintah yang akan mengimpor 500.000 ton beras dalam waktu dekat.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)  Kecamatan Sluke Marsam menilai, impor beras tidak tepat karena petani di daerah sudah mulai panen.

“Saat ini dengan adanya teknologi yang diterapkan oleh petani, yakni dengan membuat sumur bor, maka panen maju dari biasanya bulan Maret menjadi bisa di bulan Januari atau Februari,” terangnya.

Menurutnya yang dihubungi melalui layanan whatsapp, Ahad (21/1/2018), kebijakan impor beras juga akan merugikan petani.

“Bila beras impor masuk, petani akan dirugikan. Sebab beras yang beredar banyak, sehingga harga beras bisa jatuh,” paparnya.

Ia menyebutkan, pada bulan Januari ini baru sebagian kecil petani yang panen. Baru pada Februari dan Maret nanti, tingkat petani yang panen akan lebih banyak.

Di Kecamatan Sluke, baru 19 hektare lahan pertanian padi yang panen pada bulan Januari ini, dari 1.256 hektare luas tanam.

Dari hasil plot timbang, produktivitas per hektare rata-rata 8,9 hektare.

“Ketika makin banyak petani panen, sedangkan ada impor beras, maka ini jelas-jelas memberatkan petani falam usaha taninya,” tandasnya.

Marsam juga menyebutkan, harga gabah kering panen yang ditetapkan oleh Pemerintah sebesar Rp3.700 sudah cukup tepat. Ia pun menilai, harga itu membantu petani.

“Kuncinya hanya satu, biarkan petani menanam padi dan memanennya. Jangan dimasuki beras dari luar karena kita mampu dalam budidaya,” pungkasnya.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan