Penasehat Terdakwa Kekerasan Wartawan Sebut Kliennya Dikorbankan

Monday, 17 July 2017 | 17:01 WIB

Zaenal Affandi pada Senin (17/7/2017) menolak memberikan komentar ikhwal kata-katanya yang bernada mengancam wartawan saat meliput korban kecelakaan kerja PLTU Sluke di IGD RSUD dr R Soetrasno Rembang pada 18 Agustus 2016. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Darmawan Budiharto, penasehat hukum terdakwa kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan di Kabupaten Rembang menyebut kliennya dikorbankan oknum tertentu untuk maksud yang terselubung.

Pernyataan Darmawan tersebut disampaikan kepada wartawan menjawab pertanyaan terkait penjelasan lebih gamblang mengenai oknum tertentu yang disebut mengambinghitamkan kliennya sehingga menjadi pesakitan alias terdakwa.

Pada nota pembelaan yang dibacakan selama 34 menit oleh Darmawan di persidangan di Pengadilan Negeri Rembang, Senin (17/7/2017), tak diuraikan soal oknum yang mengambinghitamkan kliennya yang karyawan PLTU Sluke, Suryono.

Ditemui awak media seusai persidangan, ia juga tidak secara jelas menyebut oknum tertentu yang mengorbankan kliennya. Darmawan hanya mengatakan ada yang memanfaatkan kesempatan di kasus ini. Ia mengaku tak menyebut wartawan.

“Kalau (merasa atau tidak) dikorbankan, merasa dikorbankan. Terdakwa sama sekali tidak pernah melakukan. Disumpah pun dia berani. Tidak ada penghapusan file (foto-foto hasil liputan, red.) oleh terdakwa,” katanya kepada para pewarta.

Saat ditanya lebih lanjut apakah yang mengorbankan kliennya itu adalah pihak PLTU, Darmawan juga menampiknya. Soal apakah ada tersangka lain atau terlapor lain selain kliennya yang mesti diperika, ia menyatakan hal itu bukan ranahnya.

Pertanyaan ini diajukan wartawan seiring fakta persidangan sebelumnya yang diungkapkan oleh saksi Muntoyo alias Dicky bahwa saksi lain dalam kasus ini, Zaenal Affandi sempat berkata “Saya tidak mau tahu, kalau ada apa-apa sama wartawan.”

“Bahwa (terdakwa) ini berawal dari penyidikan. Suryono ditetapkan sebagai tersangka ini kan juga melaui gelar perkara. Jadi soal menetapkan tersangka atau terlapor (baru), itu bukan ranah kami. Terserah penyidik,” tandas Darmawan.

Zaenal yang ikut hadir di sidang itu tidak memberi komentar saat wartawan hendak meminta konfirmasi tentang kata-kata bernada ancaman tersebut. Ia justru mengarahkan jurnalis kepada GM PLTU Sluke, Yudhi Bagaskara. Tapi wartawan berlalu.

Suryono warga Desa Grawan Kecamatan Sumber didakwa melanggar Pasal 18 Ayat 1 Undang-undang Pers yang ancaman hukumannya maksimal dua tahun penjara. Jaksa Penuntut Umum (JPU) lalu menuntutnya hukuman tujuh bulan penjara.

Dalam nota pembelaan baik yang dibacakan, baik oleh penasehat hukum maupun oleh terdakwa sendiri, Suryono meminta dibebaskan dari seluruh dakwaan. Ia tetap beralasan tak pernah merampas ponsel milik Wisnu Aji, wartawan Radar Kudus.

Ketua Majelis Hakim perkara ini, Antyo Harri Susetyo memberikan waktu pada Kamis (20/7/2017) bagi JPU guna memberikan tanggapan atas pembelaan terdakwa. Terdakwa juga diberi waktu menanggapi tanggapan JPU, Senin (24/7/2017).

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan