Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Wartawan Dinilai Lamban

Kamis, 27 Oktober 2016 | 20:32 WIB
Situasi depan UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang dipadati oleh sekitar 50 orang karyawan PLTU Sluke sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 WIB. (Foto: mataairradio.com)

Situasi depan UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang dipadati oleh sekitar 50 orang karyawan PLTU Sluke sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 WIB. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menilai lamban penanganan kasus kekerasan atas wartawan yang dilakukan oleh oknum karyawan PLTU Pembangkitan Jawa Bali (PJB) di Rembang.

Ketua Lembaga Advokasi PWI Jawa Tengah Zaenal Abidin Petir mengatakan, semestinya pada saat sekarang pihak Kepolisian Resor Rembang yang menangani kasus itu sudah menaikkan proses hukum dari penyelidikan ke penyidikan.

Apalagi, laporan tindak kekerasan terhadap wartawan ini telah dilakukan oleh PWI pada 19 Agustus 2016 lalu. Tetapi sampai akhir Oktober ini, belum ada satu orang pun yang ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik.

“Pemeriksaan saksi sudah selesai, barang bukti, dan alat bukti juga sudah didapatkan. Sudah selesai semuanya. Polres Rembang mau menunggu apalagi. Seharusnya proses hukum sudah ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan,” ujarnya.

Petir juga mengatakan bahwa penanganan kasus kekerasan terhadap wartawan di Rembang oleh oknum pekerja PLTU PJB dipantau oleh publik secara luas. Pasalnya, kasus kekerasan terhadap wartawan ini menjadi satu-satunya di Jawa Tengah.

“Polres Rembang juga menjadi satu-satunya institusi kepolisian di Jawa Tengah yang menangani kasus kekerasan terhadap wartawan hingga proses penyelidikan,” tandasnya ketika dihubungi oleh wartawan melalui sambungan telepon dari Rembang.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Rembang Iptu Ibnu Suka menyatakan tidak ada kendala dalam penanganan kasus kekerasan wartawan oleh oknum pekerja pada PLTU PJB.

“Pemeriksaan sudah cukup. Barang bukti, berupa foto dan dokumentasi juga sudah dilengkapi. Segera kami agendakan gelar perkara. Nanti jika sudah waktunya, kita sampaikan perkembangannya,” ujarnya.

Lima wartawan diintimidasi dengan kata-kata “bakar” dan “bunuh” saat melakukan peliputan korban kecelakaan kerja pada lingkup PLTU, di RSUD dr R Soetrasno Rembang, 18 Agustus 2016.

Bahkan ponsel berkamera milik salah seorang wartawan sempat disita dan dihapus file gambar di dalamnya oleh oknum pekerja PLTU. Polisi telah memeriksa beberapa orang dari pihak PLTU terkait kasus tersebut.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan