Pemprov Jawa Tengah Moratorium Izin Purseseine Baru

Monday, 30 January 2017 | 15:37 WIB

Kapal jenis purseseine milik nelayan di wilayah Kecamatan Kragan. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan moratorium terhadap izin purseseine baru untuk memberi kesempatan bagi nelayan cantrang yang ingin berganti alat tangkap ke jenis jaring tersebut.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Kabupaten Rembang Sukoco mengatakan, pihaknya tak melarang pembuatan kapal jenis purseseine baru, tetapi sebatas moratorium atau penangguhan untuk sementara waktu.

“Pembangunan kapal (purseseine) baru kita stop. Kita pending untuk memberi fasilitas kepada nelayan cantrang yang mau ganti alat tangkap ke jenis purseseine. Kita tidak melarang, tetapi moratorium dulu,” katanya, Senin (30/1/2017).

Mengenai sampai kapan moratorium perizinan baru purseseine diterapkan, Sukoco menyebutkan, hingga menjelang berlaku efektif larangan penggunaan jaring cantrang mulai 30 Juni 2017. Kira-kira, dua bulan sebelumnya.

“Kalau moratorium sampai kapan, kita harus persiapan. Kita akan kondisikan sampai April. Artinya April nanti, semua (nelayan cantrang) sudah harus go e head ke purseseine atau gillnet millenium,” terangnya kepada mataairradio.com.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Rembang Gunadi mengaku sudah mendengar kebijakan moratorium pembuatan kapal dan izin baru purseseine guna memberi kesempatan nelayan cantrang yang mau ganti ke jaring itu.

“Nelayan cantrang sudah tahu kebijakan tersebut. Tetapi belum akan ganti ke purseseine (dalam waktu dekat.) Intinya, akan dimanfaatkan oleh nelayan kesempatan itu. Kalau pun akan dilakukan verifikasi atas bobot mati kapal, juga siap,” tandasnya.

Mengenai dimintanya Kepala PPP Tasikagung guna paparan kepada bank pemerintah (BRI, red.) soal bagaimana cara pergantian alat tangkap di Rembang, Gunadi mengaku belum mendengarnya. Hanya saja jika kemudian paparan itu dikaitkan dengan pinjaman bagi nelayan, akan sulit.

“Sulitnya karena nelayan sudah tidak punya agunan lagi, rata-rata. Agunan mereka sudah dipakai untuk biaya pembuatan cantrang sebelumnya. Kalau pun bisa, ya cuma beberapa nelayan,” pungkasnya ketika dihubungi via sambungan telepon.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan