Pemalakan di Komplek Pertokoan Lasem Resahkan Warga

Rabu, 30 Maret 2016 | 19:35 WIB
Kawasan pertokoan di depan Masjid Lasem. (Foto: mw_panoramio)

Kawasan pertokoan di depan Masjid Lasem. (Foto: mw_panoramio)

 

LASEM, mataairradio.com – Aksi pemalakan yang dilakukan oleh sebagian preman di komplek pertokoan depan Masjid Lasem meresahkan warga.

Minggu (27/3/2016) siang kemarin, aksi pemalakan bahkan sudah disertai kekerasan sehingga jatuh korban.

Abdul Mujib, salah satu pemilik kios di komplek pertokoan depan Masjid Lasem, Rabu (30/3/2016) pagi mengaku resah oleh aksi tersebut.

Menurutnya, banyak dari para pemilik toko yang geram oleh aksi premanisme ini.

“Teman-teman pedagang, ada yang ngasih, tetapi ada juga yang tidak. Ya resah,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, selain memalak, sejumlah preman juga diduga sering melakukan pencurian barang dagangan di tempat itu.

“Saya pernah menjadi korban pencurian, meski jumlah kerugiannya tidak terlalu besar,” tandasnya.

Menurutnya, preman-preman itu kebanyakan merupakan segerombolan anak punk dari luar daerah yang kerap mangkal di lokasi tersebut.

“Ada juga dari warga dekat sini,” tegasnya.

Mujib berharap kepada Pemerintah Kabupaten Rembang, agar menertibkan mereka, sehingga komplek pertokoan depan Masjid Lasem, aman.

“Pemalakan dan premanisme sudah lama terjadi di kawasan ini,” katanya.

Selain pemalakan, ia dan para pedagang lain di komplek pertokoan itu pun mengeluhkan kebersihan lokasi setempat.

“Di sini itu, kontainer yang telah penuh sampah sering telat diangkut untuk dibuang, sehingga menimbulkan bau,” imbuhnya.

Sebelumnya, aksi pemalakan disertai kekerasan menimpa Muhammad Labib Mustofa (15) warga Desa Selopuro Kecamatan Lasem yang kebetulan sedang “nongkrong” di kompleks pertokoan itu, Minggu siang 27 Maret kemarin.

Pelakunya diketahui bernama Agus Heri Setiawan alias Jabrik, warga Dukuh Kauman Desa Karangturi Kecamatan Lasem. Jabrik nekat melukai Labib dengan pedang setelah menolak memberikan uang kepadanya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan