Pelaku Pembacokan di Pamotan Mengidap Gegar Otak

Rabu, 11 September 2019 | 17:01 WIB
Korban pembacokan, Feri Ardianto alias Komeng sedang menjalani perawatan medis di RSUD dr R Soetrasno, Rembang. (Foto: mataairradio.com)

PAMOTAN, mataairradio.com – Pelaku pembacokan yang terjadi di Desa Pamotan Kecamatan Pamotan, pada Senin (9/9/2019) sore, di sebuah warung kopi ternyata mengalami gegar otak.

Pelaku adalah Faisal Mahmud alias Ook Warga RT 11 RW 08 Kampung Sumberan Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan yang merupakan tetangga korban sendiri, Feri Ardianto alias Komeng.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Unit (Kanit) Reskrim, Polsek Pamotan Parjana menyatakan bahwa pelaku mempunyai riwayat gegar otak, karena pernah mengalami kecelakaan. Dan hingga saat ini masih dalam masa penyembuhan.

Akibat tindakan tak manusiawi yang dilakukan oleh Faisal, sang korban pembacokan mengalami luka parah pada bagian dada sebelah kanan, akibat sabetan celurit.

Parjana menjelaskan, kejadian tersebut berawal saat korban menikmati kopi di sebuah warung kopi milik Zaenal Mahasin alias Aang yang berada tak jauh dari rumahnya.

Tidak lama kemudian pelaku datang ke warung kopi yang sama, dan terjadilah aksi anarki itu. Sebelum aksi pembacokan, anatara keduanya sempat beradu mulut, namun pada saat itu, tak ada yang tahu apa penyebabnya.

Setelah beradu mulut, pelaku mengambil senjata tajam dari kandang kambing milik tetangganya. Setelah itu, pelaku langsung mendatangi korban dan membacoknya hingga mengalami luka parah.

“Pelaku memang punya riwayat gegar otak dan saat ini kami amankan untuk menghindari amarah dari masyarakat,” ungkapnya saat ditemui Reporter mataairradio.com di Mapolsek Pamotan.

Sementara itu kakak korban Anifatur Rohmah meminta supaya pelaku bertanggung jawab atas perbuatannya, serta pihak keluarga pelaku menanggung biaya pengobatan adiknya.

Saat ini Feri masih dirawat di ruang ICU RSUD Rembang setelah dioperasi oleh tim dokter. Dirinya mengeluh sebab BPJS milik adiknya tidak bisa digunakan untuk perawatan adiknya.

Ia mengungkapkan, menurut keterangan dari pihak RSUD Rembang, pasien tidak dapat mengunakan layanan BPJS, lantaran pasien termasuk dalam kejadian kriminal.

“Semalam sekitar jam sebelas di operasi, paru-parunya katanya kena. Biayanya (Pengobatan, red.) mahal dan tidak bisa memakai BPJS karena ini kasus kriminal, kata pihak rumah sakit,” keluhnya.

Polisi sendiri masih mendalami motif pelaku dan masih meminta keterangan dari saksi-saksi yang ada disekitar lokasi kejadian, untuk mengungkap kasus ini.

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan