Pedagang Emas Korban Perampokan Dikenal Ramah oleh Warga

Minggu, 29 Mei 2016 | 16:54 WIB
Foto Sarno dan istrinya, Damisih, masih terpampang di salah satu bagian dinding rumah yang bersangkutan ketika polisi dari Polres Rembang melakukan olah TKP kasus perampokan yang merenggut nyawa Sarno, Minggu (29/5/2016). (Foto: Pujianto)

Foto Sarno dan istrinya, Damisih, masih terpampang di salah satu bagian dinding rumah yang bersangkutan ketika polisi dari Polres Rembang melakukan olah TKP kasus perampokan yang merenggut nyawa Sarno, Minggu (29/5/2016). (Foto: Pujianto)

 

KALIORI, mataairradio.com – Sarno (54) pedagang perhiasan emas korban tewas akibat perampokan di rumahnya di Dukuh Sawahan Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Minggu (29/5/2016), dikenal ramah oleh warga sekitar.

Kasturi, salah seorang warga setempat mengaku kerap disapa oleh korban dan istrinya kala melintas untuk berangkat berdagang di Pasar Kuniran. Jarak antara kediaman korban dengan Pasar Kuniran hanya sekitar 3-4 kilometer saja.

“Mungkin karena Pak Haji Sarno dan istrinya bakul ya, jadi selalu ramah kepada warga. Saya sering disapa waktu kerja. Tidak menyangka Pak Haji Sarno akan pergi secepat ini,” ujarnya saat ikut menyaksikan olah TKP perampokan di rumah Sarno.

Ia juga mengaku terakhir kali ketemu dengan Sarno pada hari Jumat (27/5/2016) dan tidak memiliki firasat apapun tentang kepergian Sarno untuk mengadap sang Pencipta.

“Ini tadi, saya tahu dari warga lain, katanya Pak Sarno dibunuh rampok. Tadi saya sempat masuk ke rumah (korban), tapi nggak sempat lihat kondisi Pak Sarno maupun istrinya karena keburu disuruh keluar polisi yang kemudian datang,” terangnya.

Sarno tewas setelah dirampok dengan disertai kekerasan. Kepala bagian belakangnya terluka robek diduga akibat hantaman keras benda tumpul.

Istrinya, Damisih (50), selamat tetapi sempat pingsan dan syok, dengan tangan dan kaki terikat serta mulut ditutup lakban, sebagaimana yang juga dialami suaminya. Ia dilarikan ke rumah sakit daerah setempat untuk menjalani perawatan.

Wakapolres Rembang Kompol Pranandya mengatakan, sebelum kejadian perampokan yang dialami Sarno dan istrinya, kata anak korban, tidak ada tamu yang mencurigakan.

“Selama ini kata anak korban juga tidak punya masalah atau musuh karena orang baik. Biasanya juga terlihat shalat subuh berjamaah di mushala depan rumah korban, tapi subuh tadi dia tidak tampak,” katanya.

Sarno dan Damisih tinggal berdua di rumah bertingkat nan panjang, di utara Kantor PKBM Bina Usaha Sejahtera Maguan. Mereka memiliki dua orang anak, semuanya perempuan, Firoh dan Anir. Keduanya tidak lagi tinggal bersama Sarno dan Damisih.

Sarno juga punya anak bernama Ahmad Shodiqin, namun merupakan buah pernikahannya dengan istri terdahulu. Keluarga ini pun terkenal sebagai juragan perusahan otobus dan travel “Zidni Silma”.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan