Pedagang Emas Dirampok dan Dibunuh di Maguan

Minggu, 29 Mei 2016 | 14:51 WIB
Damisih, istri korban, dibawa ke rumah sakit daerah setempat lantaran pingsan dan syok atas kejadian perampokan dan kekerasan yang mengakibatkan tewasnya sang suami, Sarno, Minggu (29/5/2016). (Foto: Pujianto)

Damisih, istri korban, dibawa ke rumah sakit daerah setempat lantaran pingsan dan syok atas kejadian perampokan dan kekerasan yang mengakibatkan tewasnya sang suami, Sarno, Minggu (29/5/2016). (Foto: Pujianto)

 

KALIORI, mataairradio.com – Seorang pedagang emas dirampok dan dibunuh di rumahnya di Dukuh Sawahan RT 1 RW 3 Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Minggu (29/5/2016).

Aksi perampokan disertai kekerasan yang mengakibatkan tewasnya Sarno (54) diduga dilakukan pada Minggu (29/5/2016) dini hari, tetapi kasus itu baru diketahui pagi harinya sekitar pukul 08.30 WIB.

Awalnya, Firoh anak korban yang tinggal tidak satu rumah, belum mendapati ayahnya di Pasar Kuniran, kios tempat Sarno berdagang perhiasan emas, padahal hari sudah cukup siang.

Firoh lantas berusaha menghubungi ayah dan ibunya, tetapi tidak berhasil. Dengan ditemani suaminya, Jalal, ia lantas mendatangi rumah ayahnya, sekitar pukul 08.00 WIB.

Begitu sampai, rumah ayahnya dalam keadaan sepi, sedangkan lampu depan dan atas rumah masih menyala, tetapi tidak ada jawaban ketika Firoh berusaha memanggil orang tuanya.

Ia pun mengontak kakaknya, Ahmad Shodiqin yang tinggal di Desa Kuniran, dan sesaat kemudian datang. Begitu Ahmad membuka pintu pagar dan berusaha masuk lewat pintu depan, ternyata terkunci dari dalam.

Ahmad pun bermaksud masuk lewat pintu belakang. Namun, pintu belakang itu tampak sedikit terbuka dan tidak lagi terkunci, sehingga ia curiga telah terjadi sesuatu atas orang tuanya.

Begitu berhasil masuk ke dalam rumah, Ahmad dan adiknya kaget melihat sang ayah tergeletak telentang di lantai keramik kamar dengan tangan dan kaki diikat plastik, sedangkan mulutnya dilakban.

Sementara Damisih (50), istri Sarno, juga tergeletak tetapi di kasur, dengan tangan dan kaki diikat pula serta mulutnya pun dilakban. Bedanya sang ayah sudah tak bernyawa, sedangkan ibunya masih hidup, meski pingsan.

Seketika, Ahmad menghubungi polisi yang tidak lama kemudian datang ke lokasi kejadian dan segera melakukan olah TKP secara intensif. Tampak di lokasi, tim identifikasi dipimpin oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono.

Sesaat kemudian, Wakil Kapolres Rembang Kompol Pranandya menyusul tiba di lokasi dan memantau jalannya olah TKP. Tidak berselang lama dari datangnya Wakapolres, Damisih yang masih syok dibawa keluar rumah.

“Ini istri korban yang masih hidup, kami bawa ke rumah sakit. Sementara olah TKP masih terus berjalan,” tegas Wakapolres yang baru menjabat di Polres Rembang, tiga minggu terakhir ini.

Dari penyelidikan sementara, terungkap bahwa brankas, yang berdasarkan keterangan anak korban, sering dipakai untuk menyimpan uang dan perhiasan emas, sudah kosong karena isinya diduga telah dikuras habis oleh para pelaku.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan