Nelayan Keluhkan Larangan Melaut Area PLTU Diperluas

Jumat, 26 Agustus 2016 | 22:49 WIB
Nelayan Lasem usai melaut mencari udang rebon, belum lama ini. (Foto: Pujianto)

Nelayan Lasem usai melaut mencari udang rebon, belum lama ini. (Foto: Pujianto)

 

SLUKE, mataairradio.com – Nelayan di kawasan sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke mengeluhkan larangan melaut pada radius 500 meter dari ujung dermaga pembangkit tersebut.

Pasalnya, sebelum kebijakan baru ini, nelayan hanya dilarang melaut pada radius 200 meter dari dermaga. Umumnya, mereka mengotot melaut hingga pada radius terlarang karena pada jarak itu potensi rebon melimpah.

Nasuha, Ketua Kelompok Nelayan Desa Leran Kecamatan Sluke mengatakan, melimpahnya rebon di kawasan pesisir Karangpandan, dekat PLTU sekarang, sudah diketahui sejak sebelum dibangun pembangkit listrik tenaga uap.

“200 meter saja kami keberatan, apalagi sekarang jadi 500 meter larangannya. Sementara ini kami melaut mencari rebon hingga dekat dermaga asal tidak sampai menganggu operasional PLTU,” terangnya.

Ia mengakui, belum lama ini petugas dari Pos TNI Angkatan Laut Rembang menyosialisasikan larangan melaut pada radius yang diperluas pada area 500 meter dari dermaga, tetapi langsung ditentang.

Kepala Desa Leran Imron Rosyidi membenarkan bahwa banyak warganya yang nelayan mengeluhkan perluasan larangan radius melaut serta meminta ada toleransi.

“Kalau menyangkut masalah perut, nelayan kecil akan sulit dihentikan. Jadi orang tidak punya itu susah, maka pemerintah jangan terlalu kaku menerapkan aturan,” katanya.

Menurutnya, rebon tidak setiap hari ada, sehingga begitu musim udang kecil datang, nelayan langsung giat melaut dengan berangkat selepas salat subuh dan pulang sekitar pukul 10.00 WIB.

“Memang, nelayan kami melaut hingga pada jarak 25-50 meter dari dermaga PLTU. Itu tidak terlalu mepet lah dan saya kira tidak sampai ganggu PLTU,” terangnya.

Komandan Pos TNI Angkatan Laut Rembang Lettu (Laut) Hartono menyatakan bahwa belum lama ini mengamankan tiga orang nelayan yang mencari ikan di dekat dermaga pelabuhan PLTU Sluke.

“Mereka kami bina agar tidak lagi melaut terlalu dekat dengan PLTU karena merupakan objek vital. Kalau sampai terjadi masalah akibat operasi nelayan berseliweran, bisa menghambat distribusi listrik. Larangan itu demi keselamatan mereka,” tandasnya.

Menurutnya, TNI Angkatan Laut berpegangan pada Keputusan Presiden tentang pengamanan obyek vital, di mana khusus PLTU, area steril 200 meter dari dermaga, bukan 500 meter.

“Di area sekitar PLTU cenderung banyak ikan. Tidak hanya PLTU Sluke, di PLTU lain juga sama. Ikan gemar bertelur di tempat penuh batu-batu besar seperti di kawasan dermaga PLTU,” paparnya.

Nonok Indaryitno, Pejabat Humas PLTU Sluke kepada wartawan mengatakan bahwa perluasan radius larangan melaut di sekitar PLTU bukan menjadi kewenangannya.

Menurutnya, aturan pembatasan melaut bagi nelayan tidak dimaksudkan untuk menghalangi warga mencari rezeki. Hanya demi menjamin kelancaran PLTU Sluke sebagai pemasok listrik untuk Jawa-Bali.

“Benar. Untuk pengamanan PLTU dari potensi gangguan dari wilayah laut, kami melibatkan Satpolair dan TNI Angkatan Laut,” pungkas Nonok.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan