Nelayan Cantrang Bisa Melaut Bersyarat Hingga 30 Juni

Selasa, 10 Januari 2017 | 23:35 WIB

Nelayan cantrang di Kabupaten Rembang masih belum berani melaut menangkap ikan. Mereka menanti sosialisasi resmi kalau memang penggunaan cantrang diperpanjang hingga 30 Juni 2017. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Nelayan cantrang di Kabupaten Rembang bisa melaut kembali hingga 30 Juni 2017, tapi dengan sejumlah syarat yang mesti mereka patuhi.

Kepala Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Kabupaten Rembang Sukoco, Selasa (10/1/2017), mengatakan syarat itu antara lain kepemilikan SLO atau surat laik operasi.

“Untuk bisa melaut kembali dalam enam bulan ke depan, nelayan memiliki Surat Laik Operasi (SLO) yang diterbitkan oleh Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP),” katanya.

Syarat berikutnya, lanjut Sukoco, nelayan cantrang wajib memperbarui surat izin penangkapan ikan atau SIPI. Selain itu, nelayan cantrang mesti meneken surat pernyataan siap mengganti alat tangkap.

“Efektif larangan cantrang sudah pasti diperpanjang enam bulan. Besok (11/1/2017) nelayan saya kumpulkan untuk sosialisasi. Selama masa enam bulan, nelayan cantrang boleh melaut asalkan memenuhi semua persyaratan,” katanya.

Sukoco menegaskan, proses pergantian alat tangkap selama kurun waktu enam bulan akan dikawal oleh PPP, sehingga selama kapal dalam proses melaut, yang di darat melakukan persiapan pergantian alat tangkap.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung, 187 kapal cantrang tampak masih berlabuh, meskipun aturan larangan cantrang, secara resmi diundur enam bulan.

Tempat pelelangan ikan pun sepi. Tidak ada aktivitas pelelangan ikan dan aktivitas bongkar muat dari kapal-kapal ikan. Sebagian besar nelayan tampak memperbaiki kapal atau sekadar memantau kondisinya.

Arifin, salah seorang nahkoda kapal cantrang KM Mustika Bahari Sakti menilai, keputusan Pemerintah tersebut dianggap masih kurang jelas dan belum ada sosialisasi resmi kalau memang benar diperpanjang.

“Pemerintah terkait belum memberikan sosialisasi soal itu (perpanjangan penggunaan alat tangkap ikan jenis cantrang, red,), jadinya kami ya lebih memilih berhenti melaut dulu, daripada nanti di tengah laut kena masalah, malah tambah susah,” ujarnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan