Merasa Lahannya Diserobot, SAF Polisikan Green Flower

Wednesday, 8 February 2017 | 18:51 WIB

Kepala Bagian Umum PT Sinar Asia Fortuna Bambang Susilo menunjukkan lahan berluasan sekitar delapan meter persegi dengan kedalaman sekitar 20 meter yang diduga diserobot oleh Green Flower, perusahaan tambang yang berbatasan langsung dengan lahan milik PT SAF, saat jumpa pers di salah satu rumah makan di Rembang, Rabu (8/2/2017) siang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak perusahaan pertambangan PT Sinar Asia Fortuna (SAF) di Sale melaporkan Green Flower, perusahaan di bidang yang sama ke pihak kepolisian, karena diduga melakukan penyerobotan lahan tambang batu kapur.

Kepala Bagian Umum PT Sinar Asia Fortuna Bambang Susilo menyebutkan, lahan yang diduga diserobot berluasan sekitar delapan meter persegi dengan kedalaman sekitar 20 meter. Lokasi bagian lahan tambang yang diduga diserobot berada di bagian barat.

Ia menuturkan, dugaan penyerobotan lahan itu diketahui sekitar 3-4 bulan lalu. Saat itu tebing lahan milik perusahaan longsor. Setelah ditinjau, ternyata lahan mereka ditambang oleh perusahaan tambang lain yang berbatasan.

“Kami telah peringatkan secara lisan beberapa kali, tetapi tidak diindahkan. Mereka menambang pakai bracker dan kami baru tahu setelah ada longsoran pada tebing lahan,” katanya dalam sebuah jumpa pers di sebuah rumah makan di Rembang, Rabu (8/2/2017) siang.

Pihaknya sempat melaporkan kasus dugaan penyerobotan lahan kepada pihak Kepolisian Sektor Sale. Namun karena lokasi lahan tambang itu masuk wilayah Desa Tegaldowo, maka pihak PT SAF beralih melaporkan persoalan tersebut ke pihak Polsek Gunem.

“Kami menduga penyerobotan dilakukan berkali-kali. Selama ini kami hanya bisa memperingatkan secara lisan karena untuk memperingatkan secara tertulis cukup sulit lantaran bos mereka jarang bisa ditemui di kantor perusahaan yang bersangkutan di Wonokerto,” paparnya.

Selain melaporkan dugaan penyerobotan lahan ke pihak kepolisian, langkah yang sama juga dilakukan dengan mengadukan persoalan tersebut ke pihak Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Tengah sebagai pengendali tambang. Laporan tersebut, kata Bambang, sudah direspon.

Kepala Produksi Tambang PT SAF Agung Pratikto menambahkan pihak perusahaan menderita kerugian sekitar Rp680 juta akibat penyerobotan lahan tersebut. Perhitungan itu berdasarkan kalkulasi volume material tambang yang hilang sebanyak 4.550 meter kubik.

“Kami bawa persoalan ini ke meja hukum karena komplain kerugian perusahaan. Kami komitmen menuntaskan kasus ini. Apalagi ada indikasi perusahaan tambang yang berbatasan langsung dengan lahan kami itu (Green Flower, red.) tidak memiliki legalitas buat nambang,” katanya.

Agung juga mengatakan, lahan tambang yang diduga diserobot itu sebenarnya merupakan bagian jalan inspeksi tambang. Dahulu, menurutnya, mobil inspeksi bisa lewat lahan itu, tetapi kini tidak lagi bisa dilintasi kendaraan beroda empat lantaran sudah ambrol akibat didodos bracker.

“Memang dari pihak mereka sempat mau menguruk lahan yang sudah ditambang pakai grosok. Tapi masak emas ditukar sama batu hitam. Lagi pula, grosok kalau kena air kan larut. Karena itu, tawaran itu kami tolak,” tegasnya dalam kesempatan yang sama.

Pada jumpa pers tersebut juga terungkap bahwa PT SAF kini nyaris tidak berproduksi. Penyebabnya adalah kalah bersaing dengan perusahaan tambang liar yang menjanjikan material dengan harga murah antara lain karena memakai BBM ilegal dan tidak menjaminkan biaya reklamasi.

“Dulu kami bisa produksi material 60.000 ton per bulan, tapi sekarang tinggal 20.000 ton saja. Pekerja pun kita efisiensikan karena banyak yang pensiun. Dari yang dulunya 200-an pekerja, kini tinggal 170-an pekerja. Penurunan produksi salah satunya karena tambang ilegal,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan