Merasa Dizalimi, Warga Geruduk Pabrik Sepatu

Jumat, 1 Juni 2018 | 17:14 WIB

Warga melakukan unjuk rasa di pabrik sepatu milik PT Seng Dam Jaya Abadi Rembang, Jumat (1/6/2018). (Foto: mataairradio.com)

REMBANG, mataairradio.com – Ratusan warga Pasarbanggi dan Sridadi, Rembang, menggeruduk pabrik sepatu milik PT Seng Dam Jaya Abadi di daerah setempat, Jumat (1/6/2018) siang.

Mereka berunjuk rasa menuntut penggunaan tenaga lokal untuk proyek pembangunan pabrik.

Kepala Desa Pasarbanggi Rasno mengatakan, selama ini, perusahaan pemenang tender pembangunan pabrik, PT Santi Surabaya, nyaris tidak menggunakan tenaga lokal.

Warga lokal juga merasa diperlakukan berbeda dalam hal menyuplai material alam untuk proyek pembangunan pabrik sepatu senilai Rp400 miliar ini.

“Pasokan material alam berupa pedel dari warga lokal dibatasi hanya 50 rit. Itu pun pembayarannya dilakukan setelah sebulan kirim,” terangnya kepada mataairradio.

Berbeda dengan warga luar, yang menurut Rasno, diberikan jatah kiriman lebih banyak dan pembayarannya hanya berjarak beberapa hari dari kiriman.

“Waktu dulu sosialisasi kepada warga, yang saya juga hadir di situ, warga lokal diberi prioritas menyuplai material alam jika harganya sesuai. Memang ada yang sudah menyuplai, tapi perlakuannya berbeda dengan penyuplai dari luar,” katanya.

Atas tuntutannya ini, perwakilan warga sempat bertemu dengan pihak Seng Dam Jaya Abadi dan PT Santi.

Menurut Rasno, perwakilan PT Santi diwakili oleh Roby.

“Dari pertemuan ini, terungkap bahwa Seng Dam sudah beberapa kali mengingatkan PT Santi untuk memprioritaskan warga lokal,” katanya.

PT Santi pun, kata Rasno, kemudian mempersilakan warga lokal untuk bekerja sebagai kuli proyek.

“Soal suplai material alam, juga diupayakan untuk diberikan kepada warga lokal, seperti komitmen awal waktu sosialisasi pembangunan pabrik,” bebernya.

Dengan sejumlah komitmen tersebut, warga membubarkan diri.

Rasno menambahkan, meski bubar, warga tetap akan memantau perkembangan komitmen dari pihak PT Santi dan Seng Dam Jaya Abadi.

“Jika komitmen ini dicederai, warga tempat pabrik itu berdiri, yakni Pasarbanggi dan Sridadi, akan datang lagi. Agendanya adalah mendesak proyek pembangunan pabrik ditutup,” pungkasnya.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan