Menteri Susi Tinjau Ukur Ulang Kapal Cantrang di Rembang

Selasa, 13 Februari 2018 | 18:08 WIB

Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti melihat langsung ukur ulang kapal-kapal cantrang di Kabupaten Rembang, Selasa (13/2/2018) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti melihat langsung ukur ulang kapal-kapal cantrang di Kabupaten Rembang, Selasa (13/2/2018) pagi.

Susi tiba di Rembang sekitar pukul 10.00 dengan helikopter.

Ia lalu didampingi Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Bayu Andriyanto serta sejumlah pejabat langsung menuju Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung.

Di tempat ini, Susi bertanya-tanya kepada beberapa nelayan.

Menurutnya, alat tangkap cantrang tidak bisa terus dipakai. Sebab, tiap kali tangkap, jumlah ikan yang terbuang dari penggunaan cantrang, minimal satu kuintal.

“Bahkan bisa sampai satu ton yang terbuang setiap kali tangkap,” katanya.

Susi menyebut, nelayan cantrang hanya mengambil ikan yang bernilai, sedangkan yang tidak bernilai dibuang di tengah laut.

“Kalau seluruh Pantura Jawa ada seribu kapal, kemudian ada setengah ton ikan yang dibuang per hari per sekali tangkap, bisa 500 ton yang dibuang. Serem kan,” katanya.

Menteri Susi berharap kepada nelayan cantrang agar memikirkan besarnya jumlah ikan yang terbuang itu.

Apalagi ikan-ikan yang terbuang itu, sebagian masih bisa berkembang jadi besar.

“Kalau ikan kecil-kecil yang 500 ton (dibuang) itu misalnya dari satu gram atau dua gram tumbuh menjadi lima puluh kali lipatnya, kan ada 50.000 ton,” katanya.

Ia juga mengatakan, bila cantrang diganti dengan alat tangkap ramah lingkungan, maka nelayan kecil akan bisa memperoleh potensi tangkapan yang lebih baik.

Susi menyebut, hampir semua kapal cantrang yang diukur ulang, melakukan markdown atau memanipulasi ukuran bobot mati kapal.

“Pemerintah sudah baik tidak memidanakan mereka. Setelah ukur ulang ini, nelayan cantrang boleh kembali melaut, tapi terbatas di Zona II yakni hingga 12 mil,” katanya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala PPP Tasikagung Rembang Japar Lumban Gaol mengatakan, dari ukur ulang, jumlah kapal yang bobot matinya 30 grosston ke bawah sebanyak 61 unit.

“Selebihnya, atau 190 kapal berbobot mati di atas 30 GT. Dengan demikian, total kapal cantrang di Rembang 251 unit,” katanya.

Menurut Japar, kapal 30 GT ke bawah bisa langsung melaut, sedangkan kapal cantrang di atas 30 GT harus mengantongi dulu surat keterangan melaut (SKM).

“Pelayanan SKM dimulai pada Rabu 14 Februari ini di Kantor PPP Tasikagung,” katanya.

Ia membenarkan, setelah ukur ulang ini, nelayan cantrang hanya boleh melaut hingga 12 mil.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan