Melaut Lagi, Nelayan Cantrang Wajib Bikin Komitmen

Sabtu, 10 Februari 2018 | 16:55 WIB

Kapal cantrang mulai isi perbekalan seperti es balok, Sabtu (3/8/2018). (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Nelayan dengan kapal beralat tangkap cantrang diperbolehkan kembali melaut, selagi membuat komitmen untuk berganti alat tangkap ramah lingkungan seperti gillnet.

“Tetap. Perintah Presiden, mereka diizinkan dulu melaut sambil menunggu alat tangkap yang ramah lingkungan,” ujar Ketua Satgas Pengalihan Alat Tangkap Laksamana Madya TNI (Purnawirawan) Widodo, Jumat (9/2/2018).

Nelayan, menurutnya, terserah mau memilih gillnet atau alat lain, asal bukan cantrang. Bila sudah berganti alat tangkap, maka karena kapal mereka di atas 30 GT, akan diarahkan melaut ke Laut Aru atau Natuna.

“Selama ini, perairan-perairan seperti Laut Aru, Sulawesi, dan Natuna diisi oleh kapal-kapal asing. Kapal asing ini sekarang tidak ada lagi,” katanya di Rembang.

Ketika dikonfirmasi mataairradio mengenai pernyataan pengalaman nelayan yang rugi bila melaut menggunakan gillnet, mantan Sekjen Kementerian Pertahanan RI ini menyebut tidak ada alasan.

“Sebab kapal lain yang telah berganti alat tangkap dan beroperasi di Laut Aru, Sulawesi, dan Natuna; sudah dapat hasil. Hanya memang karena nelayan belum terlatih dan memasuki zona tidak nyaman,” katanya.

Nelayan cantrang, menurut Widodo, sudah terbiasa tinggal lempar jaring lalu tarik. Hasilnya bisa enam ton, tapi satu ton di antaranya merupakan ikan-ikan kecil dan dibuang, termasuk terumbu karang.

“Pemerintah membolehkan nelayan melaut menggunakan cantrang hingga mereka ganti alat tangkap. Waktunya bisa satu atau dua tahun. Cantrang tetap harus ganti karena merusak,” kata dia.

Widodo menambahkan, cantrang dipakai oleh kebanyakan nelayan di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Ia menyebut, nelayan pemakai cantrang hanya di sebagian kecil wilayah Indonesia.

“Penggunaan cantrang ditentang oleh lembaga-lembaga dunia, sehingga Pemerintah concern soal ini,” katanya.

Sementara nelayan cantrang di Rembang menyebut jaring ini ramah lingkungan. Nelayan menyodorkan uji petik yang pernah mereka lakukan bersama perguruan tinggi.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan