Mayoritas Desa di Rembang Belum Memiliki Bumdes

Jumat, 5 Januari 2018 | 17:57 WIB

Aktivitas produksi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) oleh BUMDes Polbayem. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio – Mayoritas desa di Kabupaten Rembang ternyata masih belum memiliki badan usaha milik desa (BUMDes).

Dari 287 desa, hingga Jumat (4/1/2017) ini, baru 41 desa di antaranya yang memiliki BUMDes.

Sebagian besar desa lainnya, menurut pihak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades) Kabupaten Rembang, masih dalam tahap sosialisasi dan persiapan.

Menurut Kepala Bidang Lembaga Kemasyarakatan dan Adat pada Dinpermades Kabupaten Rembang Sri Prabandari, rata-rata desa belum memetakan potensi.

“Padahal desa-desa juga sudah studi banding ke desa di daerah lain yang sudah punya BUMDes yang berkembang,” katanya.

Ia menyebutkan, dari 41 desa itu, hanya empat desa yang BUMDes-nya berjalan baik.

“Yang sudah jalan itu di Desa Polbayem Sumber, Dasun Lasem, serta Punjulharjo dan Sumberjo Rembang,” katanya.

BUMDes Polbayem punya usaha tepung ketela, Dasun punya gedung serbaguna, susur sungai, dan wisata alam, Punjulharjo punya Pantai Karangjahe, dan Sumberjo punya pengelolaan MCK di Pasar Rembang.

Dinpermades hanya bisa memberikan sosialisasi dan imbauan agar tiap desa punya BUMDes.

“Sebab, membentuk BUMDes tidak wajib, tetapi perlu untuk mendorong perekonomian dan pendapatan desa,” katanya.

Sri Prabandari menambahkan, ada empat klasifikasi BUMDes. Mulai dari kategori dasar, tumbuh, berkembang, dan mandiri.

“Empat BUMDes yang termasuk berjalan tadi, masuk dalam kategori tumbuh. Sementara 37 BUMDes lainnya, masih kategori dasar,” katanya.

Dengan demikian, hingga awal tahun 2018, belum ada BUMDes yang berkategori berkembang dan mandiri.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan