Maling Sapi Resahkan Warga Lereng Pegunungan Lasem

Monday, 19 September 2016 | 14:43 WIB
KN (36), warga Kecamatan Sluke ditangkap karena mencuri sapi pada medio Juni 2016 lalu. Saat ini, aksi maling sapi kembali meresahkan warga di wilayah lereng Pegunungan Lasem. (Foto: Humas Polres Rembang)

KN (36), warga Kecamatan Sluke ditangkap karena mencuri sapi pada medio Juni 2016 lalu. Saat ini, aksi maling sapi kembali meresahkan warga di wilayah lereng Pegunungan Lasem. (Foto: Humas Polres Rembang)

 

SLUKE, mataairradio.com – Warga di lereng Pegunungan Lasem diresahkan oleh aksi maling sapi akhir-akhir ini. Mereka pun resah lantaran sampai dengan Senin (19/9/2016), pelakunya belum tertangkap.

Kepala Desa Kajar Kecamatan Lasem Widayat kepada reporter mataairradio mengaku hampir saja kemalingan sapi, baru-baru ini. Untungnya, kakaknya sempat memergoki orang yang diduga hendak maling sapi di kandangnya, tetapi terduga itu kabur.

Ia menuturkan, ketika itu kakaknya sedang menengok kandang yang berada di luar kampung, menjelang magrib. Widayat memiliki enam ekor sapi di kandangnya. Saat itu, sang kakak melihat orang mengendap-endap di dekat kandang.

“Waktu kakak saya memergoki dan bertanya ‘kamu sedang apa?’, orang itu sempat bantah dengan bahasa khas jawa timuran. Setelah itu, orang ini kabur dan ketika dikejar sudah kehilangan jejak,” tutur Widayat.

Sejak kejadian tersebut, warga Desa Kajar bergiliran ronda malam. Menurutnya, langkah yang sama juga dilakukan oleh warga Desa Gowak dan Sriombo serta Sendangasri Kecamatan Lasem, karena daerah itu memiliki kerawanan yang sama.

“Tidak hanya wilayah di Kecamatan Lasem, warga lain di sebelah utara, masuk wilayah Kecamatan Sluke, juga banyak yang jaga malam sekarang ini seperti Sanetan, Trahan, dan lainnya,” paparnya.

Kepala Desa Sanetan Kecamatan Sluke Janadi membenarkan, belakangan warganya sering melakukan ronda malam untuk mengantisipasi aksi maling sapi yang meresahkan warga desanya, seminggu terakhir ini.

Menurutnya, memang belum ada warga desanya yang kehilangan, tetapi sudah ada warga yang juga memergoki orang tidak dikenal menuntun sapi pada malam hari, tetapi ketika disapa, yang bersangkutan justru lari.

“Desa kami belum ada yang kehilangan, tetapi warga desa tetangga sudah ada yang kehilangan. Di Desa Jatisari, Sendangmulyo, dan Labuhan Kidul masing-masing satu ekor, serta di Sumbersari Kecamatan Kragan dua ekor,” ungkapnya.

Ia mengakui, penempatan ternak sapi warga di kandang yang lumayan jauh dari permukiman penduduk, bisa menjadi perangsang maling untuk beraksi, apalagi jika sedang ada keramaian di desa dan peternak pemiliknya lalai.

“Seperti di Desa Sriombo Kecamatan Lasem, maling beraksi ketika bertepatan dengan adanya pertunjukan ketoprak. Begitu warga lengah, maka pelaku beraksi. Karena itu, kami harus lebih berhati-hati dan berjaga-jaga,” tandasnya.

Ia menambahkan, selain meningkatkan ronda malam, warga berharap petugas polisi di wilayah setempat, membantu melakukan patroli secara lebih ketat dan berlapis.

Kepala Polsek Sluke AKP Bibit AS mengaku sudah meningkatkan patroli keamanan di wilayahnya, terutama sejak warga geger oleh aksi maling sapi di beberapa desa di lereng pegunungan.

“Setiap malam, lima anggota polisi, pasti kami kerahkan untuk patroli, termasuk dua polisi berpakaian preman. Kami tidak tinggal diam. Adapun soal pelaku, kami sedang lakukan penyelidikan. Mohon doanya kami bisa segera menangkap pelaku,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan