Kiriman BBM Tersendat Macet Pantura

Sabtu, 6 Juli 2013 | 12:38 WIB
Kemacetan parah di Jalur Pantura Rembang-Pati setidaknya dalam lima hari terakhir berdampak pada ketersendatan pasokan bahan bakar minyak (BBM). Foto:Rif)

Kemacetan parah di Jalur Pantura Rembang-Pati setidaknya dalam lima hari terakhir berdampak pada ketersendatan pasokan bahan bakar minyak (BBM). (Foto:Rif)

REMBANG, MataAirRadio.net – Kemacetan parah di Jalur Pantura Rembang-Pati setidaknya dalam lima hari terakhir berdampak pada ketersendatan pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah stasiun bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Rembang.

Pantauan reporter MataAir Radio pada Sabtu (6/7) pagi, sejumlah SPBU mengalami kekosongan stok karena kiriman dari Pertamina belum tiba. Sejumlah armada angkutan barang yang terlanjur membelok untuk mengisi BBM, terpaksa tertahan di SPBU.

Supervisor SPBU Tireman Muhammad Syafik mengakui, kiriman bahan bakar minyak baik jenis solar maupun premium memang tersendat. Akibatnya stok BBM di SPBUnya sampai dengan pukul 09.00 WIB masih kosong.

Berdasarkan pengalaman hari sebelumnya, kiriman dari Pertamina di Tuban yang berangkat pada pukul 17.00 WIB baru tiba di Rembang pada pukul 12.00 WIB atau semalam setengah hari.

Ketersendatan pasokan BBM ke sejumlah SPBU praktis membuat para pengecer premium dan solar di daerah pelosok kelimpungan karena tidak bisa melayani kebutuhan warga.

Meski nekat menunggu jatah kiriman BBM di SPBU, diperlukan kesabaran ekstra, sebab pengecer tidak langsung mendapat premium yang diecer karena harus mengantre lama.

Hayat, seorang pengecer premium di wilayah Sale mengaku, harus menunggu hingga seharian untuk mendapatkan premium di SPBU. Ia juga menyebutkan, jika biasanya setiap dua hari sekali bisa kulakan, kini bisa tiga hari.

Sementara itu, Ahmadi seorang sopir truk pengangkut kayu lapis yang ditemui di SPBU Tireman mengaku, sudah menunggu hampir tiga jam untuk mendapatkan solar.

Ia yang hendak mengangkut muatan dari Surabaya ke Jakarta itu menyebutkan, stok solar di tangki armadanya sudah menipis dan terlalu berisiko apabila melanjutkan perjalanan dengan kondisi macet. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan