Kurang Personel, Satu Polisi Layani 901 Penduduk

Tuesday, 3 January 2017 | 16:33 WIB
Kepolisian Resor Rembang menggelar apel gelar pasukan guna mengantisipasi kerawanan atas aksi unjuk rasa protes dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama alias Ahok di Ibukota pada Jumat, 4 November 2016. (Foto: mataairradio.com)

Kepolisian Resor Rembang menggelar apel gelar pasukan guna mengantisipasi kerawanan atas aksi unjuk rasa protes dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama alias Ahok di Ibukota pada Jumat, 4 November 2016. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Kepolisian Resor (Polres) Rembang mengakui kekurangan ratusan personel polisi. Akibatnya, pelaksanaan tugas polisi di kabupaten ini masih menemui banyak kendala.

“Jumlah polisi kita 689 orang. Jumlah penduduk Rembang 620.967 jiwa. Rasio polisi dan penduduk masih 1:901. Padahal, menurut PBB, rasio idealnya 1:400,” kata Kapolres Rembang AKBP Sugiarto.

Pada kesempatan jumpa pers di Mapolres Rembang baru-baru ini, Kapolres mengatakan, untuk mencapai rasio ideal tersebut diperlukan 1.167 personel, sehingga masih kurang 478 personel.

“Setiap bulan, kami mengajukan permohonan tambahan personel kepada satuan yang lebih atas. Tetapi penambahan masuk personel baru tak banyak. Paling 10 personel saja per tahunnya,” katanya.

Sugiarto juga mengatakan, dengan rasio polisi dan jumlah penduduk yang belum ideal, maka seorang babinkamtibmas kini masih mengakaver empat hingga lima desa, dengan jarak yang cukup jauh.

“Tetapi kita bersyukur karena jarak antardesa masih bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor. Saya tekankan kepada anggota agar selalu semangat. Sebab yang di Luar Jawa keadaannya masih memprihatinkan,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan