Kemarau, Lahan Anggur Disulap Jadi Stokpel Batu

Sabtu, 3 Oktober 2015 | 18:30 WIB
Salah satu titik perbelahan batu di wilayah Desa Sidowayah Kecamatan Pancur. Lokasi ini separuhnya merupakan lahan tegalan. (Foto: Pujianto)

Salah satu titik perbelahan batu di wilayah Desa Sidowayah Kecamatan Pancur. Lokasi ini separuhnya merupakan lahan tegalan. (Foto: Pujianto)

 
PANCUR, mataairradio.com – Sejumlah warga di Kecamatan Pancur memanfaatkan lahan yang menganggur akibat kemarau menjadi semacam stokpel batu belah.

Batu belah itu berasal dari batu boulder atau batu split yang diambil oleh para penambang di pegunungan wilayah Pancur.

Mian, salah seorang warga Desa Sidowayah memanfaatkan sebagian lahan ketelanya menjadi stokpel. Dia menampung batu bolder dari daerah Perbukitan Banyu Desa Kalitengah Kecamatan Pancur.

“Ini batu dari Banyu. (Lahan) Ini kalau musim hujan, ya ditanami. Tetapi karena ini kemarau panjang, daripada menganggur, saya pakai untuk lokasi pecah batu,” katanya kepada mataairradio.

Dia menyebutkan, satu batu boulder dibelah oleh satu orang pekerja dan menghasilkan 2 rit batu belah.

“Harga satu batu boulder Rp550 ribu, sedangkan harga satu rit batu belah Rp400 ribu,” katanya.

Keuntungan Mian kira-kira Rp250 ribu per rit. Tetapi itu masih dikurangi ongkos belah Rp70 ribu dan ongkos pekerja yang menaikkan batu ke atas truk Rp120 ribu.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, ada setidaknya 11 lokasi perbelahan batu boulder secara manual yang berderet di sepanjang tepi jalan dari Kalitengah hingga Pertigaan Nyode-Pancur.

“Rata-rata memanfaatkan tegalan yang menganggur, tetapi ada yang memakai pekarangan,” terang Jumari, warga Sidowayah, Pancur.

Warga yang memanfaatkan lahannya untuk dijadikan semacam stokpel menyatakan tidak tahu ikhwal penambangan batu bolder, apakah ada izin atau tidak dari dinas terkait.

Mereka hanya menerima kiriman boulder dari penambang, lalu memecahnya menjadi batu belah.

Sumari, salah seorang warga dari Desa Kalitengah mengaku sudah satu bulan ini bekerja membelah batu. Hal itu setelah lahan pertaniannya tak bisa ditanami akibat kemarau.

“Tiap hari, saya membelah satu boulder dengan upah Rp70 ribu. Banyak petani yang beralih jadi pembelah batu karena pertanian sepi,” katanya.

Yanto, warga Desa Sumberagung yang memanfaatkan pekarangannya sebagai lokasi perbelahan batu boulder menambahkan, upaya memakai lahan kosong untuk usaha semacam itu, baru dilakukannya dalam setahun terakhir.

Dengan menyediakan lahan, dirinya bisa menyedot beberapa orang untuk bekerja membelah batu. Pendapatannya diperoleh dari selisih antara harga boulder yang didrop di stokpel oleh penambang, dengan harga jual ketika jadi batu belah.

“Pembeli batu belah biasanya datang ke sini sendiri,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan