Keluarga Konfirmasi Mayat Naning dari Gelang, Celana, dan Bra

Kamis, 5 April 2018 | 18:36 WIB

Evakuasi terhadap mayat Naning Afriyani, wanita yang terseret arus selokan di Jolotundo Kecamatan Lasem pada Selasa (3/4/2018). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

LASEM, mataairradio.com – Wanita yang dilaporkan hilang setelah terseret arus selokan di Desa Jolotundo Kecamatan Lasem pada Selasa (3/4/2018) lalu akhirnya berhasil ditemukan.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di perairan laut dekat PLTU Sluke, Kamis (5/4/2018) pagi.

Mayat wanita bernama Naning Afriyani warga Desa Punggurharjo Kecamatan Pancur ini, ditemukan pertama kali oleh nelayan berasal dari Dukuh Layur Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem saat melaut menangkap ikan.

Begitu melihat mayat mengapung di lautan, nelayan mengontak pihak desa. Sebagian nelayan pulang, sedangkan sebagian nelayan lainnya “stand by” untuk mengamankan lokasi mayat.

Camat Lasem Harjono yang kemudian dihubungi oleh Kades Gedongmulyo menyatakan langsung mengontak BPBD Kabupaten Rembang.

Mayat itu diyakini sebagai Naning dari gelang di tangan, celana warna hitam, dan bra warna merah. Tim SAR pun segera melakukan evakuasi.

“Jasad memang sudah membengkak, tetapi ada ciri khusus yakni mengenakan gelang. Ciri lainnya juga identik yakni memakai celana hitam dan bra warna merah,” bebernya.

Anggota dari Satuan Polisi Perairan Polres Rembang Imam Fatoni yang merupakan bagian dari tim SAR mengatakan, mayat Naning dievakuasi dari perairan dengan jarak sekitar lima mil dari Pantai Layur, Gedongmulyo.

“Mayat dalam kondisi terlentang saat pertama kali ditemukan,” terangnya.

Proses evakuasi memakan waktu selama sekitar dua jam. Tim evakuasi berangkat dari Pantai Layur sekitar pukul 08.00, dan baru kembali mendarat sekitar pukul 10.00 WIB.

Keluarga mengonfirmasi bahwa mayat yang ditepikan oleh tim SAR adalah Naning Afriyani, istri Dwi Narta.

Naning terseret arus selokan dekat Jembatan Kemendung sekitar pukul 19.00 WIB pada Selasa (3/4/2018) lalu. Ketika itu, Naning hendak berteduh dari hujan lebat.

Awalnya, ia dibonceng oleh suaminya, pulang dari Lasem. Sampai di Jolotundo, Dwi menghentikan motornya karena banjir.

Korban pun turun. Sang suami lantas menuntun motornya hingga Gapura Desa Jolotundo.

Setelah itu, Dwi balik untuk menjemput istrinya yang sempat diketahui akan berteduh di depan toko setempat.

Namun Naning sudah tidak ada. Tinggal sandalnya. Korban tercebur selokan dan terseret.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan