Kasus PLTU Intimidasi Wartawan, Polisi Panggil PWI

Minggu, 21 Agustus 2016 | 16:50 WIB
Situasi depan UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang dipadati oleh sekitar 50 orang karyawan PLTU Sluke sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 WIB. (Foto: mataairradio.com)

Situasi depan UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang dipadati oleh sekitar 50 orang karyawan PLTU Sluke sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 WIB. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Kepolisian Resor Rembang mengagendakan pemanggilan terhadap pihak Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat terkait kasus intimidasi dan perampasan ponsel wartawan oleh pekerja dari pihak PLTU Pembangkit Jawa Bali di wilayah Sluke.

Rencananya, menurut keterangan Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, Ahad (21/8/2016), pemanggilan pihak PWI akan dilakukan pada pekan depan ini, dalam kapasitas sebagai pelapor, sedangkan dari pihak PLTU akan dipanggil pada kemudiannya.

“Teman wartawan dulu yang kami klarifikasi, setelah itu baru PLTU. Kalau teman-teman wartawan berinisiatif datang ke Mapolres malah lebih bagus. Kalau bisa lebih cepat lebih bagus. Silahkan kapan mau hadir,” katanya.

Jumat (19/8/2016) lalu, Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Rembang melaporkan insiden intimidasi, menghalang-halangi, dan disertai perampasan ponsel kamera wartawan ketika melakukan peliputan korban kecelakaan kerja di PLTU, di UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang.

Pihak Polres Rembang, kata Sugiarto, memiliki komitmen untuk melakukan penanganan terhadap insiden yang terjadi pada Kamis (18/8/2016) malam lalu itu.

“Kami memberikan perhatian dan pelayanan atas laporan teman-teman wartawan sesuai dengan prosedur. Yang pasti kami memiliki komitmen untuk menangani kasus ini,” katanya menegaskan.

Ketua PWI Kabupaten Rembang Jamal A Grahan menyatakan meminta kepada pihak Polres Rembang untuk tidak setengah-setengah pada kasus intimidasi dan perampasan alat kerja wartawan.

Ia pun mengatakan bahwa pada saat ini, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak PWI Jawa Tengah terkait dengan kemungkinan adanya bantuan advokasi.

“Kesepakatan teman-teman, kami akan terus melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Sebab, harapan kami ini menjadi pembelajaran bagi siapa pun untuk tidak menggunakan cara-cara premanisme terhadap profesi kewartawanan,” katanya.

Ia menekankan, insiden intimidasi dan perampasan ponsel milik wartawan oleh karyawan PLTU bukan lagi persoalan personal, melainkan telah masuk ranah organisasi profesi dan profesi kewartawanan.

Sementara itu, aksi solidaritas atas intimidasi dan perampasan ponsel milik wartawan oleh karyawan PLTU terus mengalir. Setelah pada Jumat (19/8/2016) kemarin, seluruh wartawan Kabupaten Rembang telah menggelar aksi teatikal mengutuk insiden tersebut.

Rencananya, Senin (22/8/2016) ini, akan ada aksi damai dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) di Rembang. Mereka juga mengutuk keras insiden tersebut dan meminta kepada pelaku agar diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan