Kasus PLTU Intimidasi Wartawan, Dua Jurnalis Dianggap Tidak Solider

Selasa, 23 Agustus 2016 | 23:43 WIB
Para pewarta menggelar aksi guna mengecam insiden intimidasi terhadap jurnalis yang berlangsung di depan Kantor PLN Rembang, Senin (22/8/2016) siang. (Foto: Pujianto)

Para pewarta menggelar aksi guna mengecam insiden intimidasi terhadap jurnalis yang berlangsung di depan Kantor PLN Rembang, Senin (22/8/2016) siang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Dua orang jurnalis dari koran harian Radar Kudus dianggap tidak solider dengan rekannya sesama wartawan yang kini tengah menuntut keadilan dan proses hukum atas kasus kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oknum pekerja PLTU Sluke.

Penilaian terhadap dua jurnalis masing-masing bernama Wisnu Aji dan Ali Mahmudi tersebut mencuat pada saat berlangsung pertemuan para wartawan di Kabupaten Rembang, di Media Centre Pemkab Rembang, Selasa (23/8/2016) pagi.

Menurut mereka, selama aksi damai mengecam tindakan pekerja PLTU yang arogan, dua wartawan tersebut dinilai tidak sepenuh hati dalam memberikan dukungan.

Bahkan, sebagai Kepala Biro Radar Kudus Rembang, Ali Mahmudi terlihat tidak sekali pun hadir dalam dua kali aksi damai baik yang digelar PWI atau Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Muria Raya.

Padahal, satu dari enam wartawan korban intimidasi karyawan PLTU adalah Wisnu Aji, yang merupakan wartawan Radar Kudus Biro Rembang.

Selain itu, gabungan wartawan juga merasa gerah atas pernyataan Ali Mahmudi yang tercantum dalam siaran pers PT PJB yang tersebar kepada wartawan.

Dalam rilis itu disebutkan, perwakilan PJB menyatakan telah mendatangi kantor Radar Kudus Biro Rembang guna menyampaikan permintaan maaf. Mereka mengklaim permintaan maaf itu telah diterima oleh Ali Mahmudi.

Padahal, korban intimidasi bukan hanya wartawan Radar Kudus, melainkan juga wartawan Radio POP FM, Radio Citra Bahari, koran Suara Merdeka, Semarang TV, dan Majalah Bhayangkara Perdana.

Pihak Pembangkitan Jawa Bali (PJB) belum pernah mendatangi wartawan lainnya, untuk meminta maaf.

Sekretaris PWI Kabupaten Rembang Daryono mengatakan wartawan luar daerah saja rela datang ke Rembang, demi memperjuangkan harga diri korban intimidasi, termasuk Wisnu Aji yang ponsel berkameranya dirampas .

Setelah melihat dinamika kian memprihatinkan, katanya, para wartawan sepakat untuk mengambil langkah sebagai sanksi sosial terhadap dua wartawan Radar Kudus.

“Sikap itu antara lain sepakat tidak akan membagi materi berita bagi dua wartawan tersebut dan tidak memberikan dukungan moril-materiil apabila di kemudian hari menghadapi masalah berkaitan peliputan,” ujarnya.

Selain itu, Kamis (25/8/2016), wartawan Rembang juga berencana menggelar aksi damai di depan Kantor Radar Kudus Biro Rembang. Aksi rencananya akan dilakukan dengan cara tutup mulut menggunakan lakban.

“Alasannya, Radar Kudus ternyata tidak turut memberitakan kecelakaan kerja di PLTU serta aksi solidaritas FWR, PWI, dan IJTI saat mengecam kekerasan kepada wartawan. Padahal, secara prinsip jurnalisme, peristiwa itu layak menjadi bahan pemberitaan,” katanya.

Pada kesempatan terpisah Kepala Radar Kudus Biro Rembang Ali Mahmudi mengatakan dirinya sudah keluar dari FWR dan bukan anggota PWI.

Ia juga menyatakan berhak menentukan sikap sendiri, tetapi tetap menghormati aksi solidaritas. Mengenai alasan pihaknya tidak memberitakan kecelakaan kerja di PLTU, hal itu merupakan kebijakan manajemen kantornya.

“Soal peristiwa yang dialami Wisnu, kami mesti mempertimbangkan keselamatannya. Nantinya Wisnu akan kita ajak ke Polres Rembang, melalui pendampingan kantor Radar Kudus. Secara pribadi kami mendukung agar insiden intimidasi wartawan diusut tuntas secara hukum,” tutupnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan