Kasus Perampokan Pedagang Emas, Empat Saksi Diperiksa

Senin, 30 Mei 2016 | 16:48 WIB
Polisi mengemas dan mengamankan barang bukti dari kediaman Sarno, pedagang emas yang menjadi korban tewas akibat perampokan di kediamannya di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Minggu (29/5/2016). (Foto: Pujianto)

Polisi mengemas dan mengamankan barang bukti dari kediaman Sarno, pedagang emas yang menjadi korban tewas akibat perampokan di kediamannya di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Minggu (29/5/2016). (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Empat orang saksi diperiksa oleh penyidik dari Kepolisian Resor Rembang terkait kasus perampokan yang berujung pada tewasnya pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Sarno (54), Minggu (30/5/2016) kemarin.

Mereka merupakan keluarga atau anak-anak korban, sehingga kesaksiannya merupakan keterangan permulaan yang perlu dilakukan oleh penyidik dari kepolisian, guna mengungkap pelaku dan motif tindak pencurian disertai kekerasan tersebut.

“Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan terhadap saksi. Ada 4, tapi bisa berkembang. Kita tunggu pemeriksaan awal dari keluarga korban sendiri,” terang Kasatreskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono.

Senin (30/5/2016) pagi, polisi kembali mendatangi tempat kejadian perkara untuk melakukan olah TKP secara lebih spesifik guna menemukan alat bukti tambahan, selain yang sudah diamankan pada Minggu (29/5/2016) kemarin.

“Kemarin, kami mengamankan lakban warna hitam yang dipakai oleh pelaku untuk mengikat kaki dan tangan serta menutup mulut korban. Ada juga kaos warna putih milik korban, yang sempat dipakai pelaku untuk menutup wajah, tetapi dibuang di belakang rumah (korban),” bebernya.

Selain memeriksa saksi dan telah mengamankan sejumlah barang bukti, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan polres tetangga di area Polda Jawa Tengah, terkait hubungan kasus di Maguan dengan tindak pidana terutama kasus perampokan emas di lain daerah dan bermodus sama.

“Kami berharap doa dari seluruh masyarakat agar bisa cepat mengungkap kasus ini. Yang saat ini juga kami harapkan adalah agar masyarakat tidak berspekulasi atau beropini yang tidak-tidak, sehingga justru menghambat proses penyelidikan,” tukasnya.

Kasatreskrim menambahkan, sampai dengan Senin (30/5/2016) sekitar pukul 15.00 WIB, garis batas polisi yang sempat dipasang di rumah korban masih belum dilepas, karena pihaknya olah TKP bisa dilakukan berkali-kali.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan