Kafe Karaoke Diusulkan Dilokalisir di Pulau Gede

Selasa, 8 Maret 2016 | 18:59 WIB
Rapat lintas Komisi DPRD dengan SKPD membahas penertiban kafe karaoke di Rembang di Ruang Banggar DPRD setempat, Selasa (8/3/2016) siang. (Foto: Pujianto)

Rapat lintas Komisi DPRD dengan SKPD membahas penertiban kafe karaoke di Rembang di Ruang Banggar DPRD setempat, Selasa (8/3/2016) siang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Ketua Komisi B DPRD Rembang Harno mengusulkan agar usaha kafe karaoke dilokalisir keberadaannya menjadi satu agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Hal itu diungkapkannya dalam rapat lintas komisi dengan SKPD di Ruang Banggar DPRD Rembang pada Selasa (8/3/2016) siang.

Menurutnya, kafe karaoke itu bisa dilokalisir di pulau yang dimiliki Rembang seperti Pulau Marongan. Namun karena pulau tersebut sudah musnah, maka Pulau Gede bisa menjadi alternatif.

“Lokalisir kafe karaoke itu juga agar para pekerja pada usaha tersebut tetap bermata-pencaharian,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Harno kembali mengingatkan bahwa sesuai amanat perda, jumlah kafe karaoke di Rembang dibatasi 8 titik. Ia mengakui, saat ini sudah banyak tambahan berdiri kafe karaoke, yang keberadaannya bertentangan dengan aturan.

“Kalau kita mau karaoke itu tambah, maka perda mesti diganti. Kalau mau dikurangi, kita carikan solusinya,” tandasnya.

Kepala Seksi Pengelolaan Perizinan pada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Rembang Abdul Rozak pada rapat itu mengklarifikasi pernyataan Harno mengenai batasan jumlah kafe karaoke di daerah ini yang hanya untuk 8 titik.

“Perda Nomor 8 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Usaha Kepariwisataan, tidak menyebutkan adanya batasan kafe karaoke hanya di 8 titik,” ujarnya.

Namun, ia mengakui, lima tahun lalu, DPRD memang sempat meminta agar jumlah kafe karaoke dibatasi dan mekanismenya akan diatur dalam perbup.

Meski tidak ada ketentuan secara tegas di perda, Rozak menegaskan bahwa jumlah kafe karaoke yang berizin di Rembang hanya 8, yaitu Kafe Srimpi di Pamotan, lalu Dimensi, Palapa, Galaxy, California, dan Maya di Rembang, serta Mama Mia di Gunem dan JNT di Sulang.

“Kami tidak menerbitkan izin karaoke yang lain,” tegasnya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Rembang Slamet Riyadi mengamini data dari KPPT yang menyebut jumlah kafe karaoke yang berizin ada 8 titik.

“Di Rembang, banyak kafe karaoke yang tidak berizin,” katanya.

Namun pihaknya mengaku kesulitan menertibkan kafe karaoke yang tidak berizin. Pasalnya, dinas lain, dalam hal ini Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Rembang, justru memungut retribusi dari kafe karaoke yang tidak berizin itu.

“Kami berharap agar kafe karaoke yang tak berizin itu tidak dipungut retribusi. Karena kami sering terlibat adu mulut dengan pengusaha kafe di lapangan, karena kutipan retribusi itu dijadikan senjata untuk melegitimasi karaoke tersebut, seolah-olah telah legal,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan