Jumlah Rumah Berlanggam China Kuno di Lasem Semakin Berkurang

Senin, 27 November 2017 | 09:07 WIB

Rumah berlanggam china kuno di Lasem. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Jumlah rumah berlanggam china kuno di wilayah Kecamatan Lasem terus berkurang.

Dari 600 unit rumah china kuno di wilayah itu, hampir 60 persennya kini hilang antara lain karena usia bangunan yang tua sehingga roboh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbubpar) Kabupaten Rembang Dwi Purwanto mengatakan, pihaknya sedang berupaya untuk mempertahankan bangunan-bangunan di Lasem yang dianggap memiliki nilai sejarah, termasuk rumah berlanggam china kuno.

“Ini kita akan membentuk tim ahli cagar budaya, mereka nanti akan mensosialisasikan ke warga masyarakat Lasem. Tahun ini targetnya akan mengeluarkan RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan), itu nanti yang kita sosialisasikan, terutama lingkungan yang diduga kawasan cagar budaya,” ungkapnya.

Menurutnya, setiap pembangunan di kawasan cagar budaya tidak bisa dilakukan secara sembarangan, alias harus melalui kajian terlebih dahulu.

“Prinsipnya, membangun tapi tidak merubah bentuk asli cagar budaya. Perkembangan di Lasem akhir-akhir ini memang akan dibangun suatu hotel. Namun pembangunan hotel itu di lahan yang kosong tidak merobohkan bangunan rumah berlanggam china kuno,” benernya.

Seorang pegiat sejarah di Lasem sekaligus sinolog dari Universitas Indonesia Agni Malagina mengungkapkan, saat ini diaspora Lasem mulai kembali. Warga keturunan Lasem yang merantau kini pulang ke kampung halamannya masing-masing, untuk memperbaiki rumah tua mereka.

“Sepertinya mereka bisa melihat bahwa di masa akan datang Lasem berkembang ke arah positif. Makanya mereka kembali datang, investasi di rumah mereka sendiri, merenovasi bangunan tua leluhurnya,” ungkapnya kepada mataairradio.com, baru-baru ini.

Ia menambahkan, orang-orang keturunan Lasem ingin berkontribusi untuk kemajuan Lasem. Bahkan kini telah banyak terbentuk komunitas-komunitas pegiat sejarah Lasem.

“Sekarang mereka makin banyak bikin kegiatan seperti pelatihan-pelatihan, belum lagi diskusi-diskusi tentang Lasem dengan kalangan dari pesantren.

Ada juga keturunan Lasem di Belanda yang ikut membantu mencari data arsip tentang Lasem di Leiden,” pungkas Agni yang seorang dosen Program Studi China Fakultas Ilmu Budaya pada Universitas Indonesia.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan