Gus Mus: Contohlah Kepemimpinan Nabi Muhammad

Jumat, 8 Desember 2017 | 22:24 WIB

Kiai Ahmad Mustofa Bisri saat menjadi pembicara pada Pelatihan Kepemimpinan dan Latihan Instruktur 2 di Aula Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang, Jumat (8/12/2017) malam. (Foto: Pujianto)

REMBANG, mataairradio.com – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Ahmad Mustofa Bisri meminta kader Gerakan Pemuda Ansor menyontoh kepemimpinan Nabi Muhammad.

Gus Mus, sapaan akrab Kiai Ahmad Mustofa Bisri, menyampaikannya saat menjadi pembicara pada Pelatihan Kepemimpinan Nasional dan Latihan Instruktur 2 di Aula Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jumat (8/12/2017) malam.

PKN dan LI 2 merupakan jenjang kaderisasi tertinggi di GP Ansor guna mempersiapkan kader sebagai pemimpin bangsa di masa depan.

Gus Mus mengatakan, Nabi Muhammad merupakan pemimpin yang paling manusia, mengerti manusia, dan memanusiakan manusia.

“Pemimpin harus memiliki ciri ini kalau ingin menyontoh kepemimpinan Rasulullah. Saya sering mengatakan Rasulullah itu manusia yang paling manusia mengerti manusia, dan memanusiakan manusia,” katanya.

Selain itu, jika menyontoh Nabi Muhammad, pemimpin itu semestinya tidak tahan bila melihat penderitaan mereka yang dipimpinnya.

“Rasulullah itu tidak tega dengan penderitaan umatnya. Rasulullah juga gencar amar makruf nahi munkar. Amar makruf nahi munkar ini adalah manifestasi dari kasih sayang,” ujarnya.

Kepemimpinan, menurut Gus Mus, dicontohkan Nabi  dihiasi dengan kasih sayang. Nabi itu, lanjut Gus Mus, juga penuh perhatian kepada umatnya.

“Rasulullah itu lembut dengan umatnya. Tidak kasar. Meskipun terhadap mereka yang tersesat sekalipun. Pemimpin itu juga mesti pemaaf,” tandas pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin.

Ia juga mengingatkan, sebagai pemimpin, Nabi pun tidak suka marah-marah, apalagi mem-bully atau memfitnah.

“Mengaku cinta Rasulullah kok suka memfitnah, mem-bully, dan marah-marah, ” sindirnya.

Gus Mus menambahkan, pemimpin kekinian semestinya tidak hanya menguasai satu bahasa, tetapi juga memahami bahasa mahasiswa, seniman, bahkan bahasa para jancuker.

Oleh karena itu, kiai yang seniman dan budayawan berharap kepada yang pelatihan kepemimpinan nasional, agar meluruskan niat.

“Jangan berniat menjadi pemimpin, tetapi berniat lah mempersiapkan diri kalau-kalau nanti dituntut jadi pemimpin.

Ditata niatnya. Di Ansor mau ngapain. Ikut pelatihan ngapain. (Kesadaran) Itu akan membimbing Anda ke depan,” paparnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, PKN dan LI-2 merupakan wahana untuk mempersiapkan kader guna menyambut kepemimpinan nasional.

“Mereka yang menjadi peserta PKN dan LI-2 ini sebelumnya mesti mengajukan proyek sosial yang setelah disetujui, mesti direalisasikan setelah lulus, sebagai bukti nyata kiprah kader Ansor bagi bangsa,” pungkasnya.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan