Dugaan Ada Hunian Kuno di Areal Masjid Lasem Menguat

Minggu, 4 Maret 2018 | 22:35 WIB

Abdullah Hamid, pemerhati budaya Lasem sekaligus pengurus perpustakaan Masjid Lasem (kanan) saat melayani peneliti dari Museum Arkeologi Nasional dan peneliti dari Perancis pada tahun 2017. (Foto dikutip dari laman masjidjamilasem.com)

 

LASEM, mataairradio.com – Dugaan adanya hunian kuno di areal Masjid Lasem di wilayah Kauman Desa Karangturi Kecamatan Lasem menguat setelah penemuan keramik, gerabah, serta batu bata merah ukuran besar untuk kesekian kali.

Sebelumnya, 28 Februari 2018, juga ditemukan keramik, gerabah, serta uang koin era VOC. Sebelumnya lagi atau pada pertengahan 2017, ditemukan dua mata tombak berkarat, tempayan, dan batu lumpang kuno.

“Temuan terbaru sama saja; keramik, gerabah, dan bata merah besar,” terang Abdullah Hamid, pemerhati budaya Lasem yang juga pengurus perpustakaan Masjid Lasem pada Ahad 4 Maret 2018.

Ia menyebutkan volume keramik, gerabah, dan artefak lainnya semakin banyak. Menurutnya, bejibun temuan benda bersejarah semakin membuktikan adanya hunian kuno di areal Masjid Lasem.

Dugaan hunian kuno di tanah Perdikan Adipati Lasem Mbah Srimpet ini pun seiring temuan terowongan kuno. Terowongan ini bisa jadi saluran air atau bisa juga jalur evakuasi atau siasat gerilya kota.

“Terowongan kuno ini bisa saluran air atau bisa juga jalur evakuasi. Pernah ditemukan juga terowongan jalur manusia di rumah candu Soditan. Dan terowongan besar di Alun-alun Lasem dan Sumbergirang,” tuturnya.

Guna membuktikan kesejarahan atas dugaan hunian kuno di areal Masjid Lasem, ia berharap ada penelitian secara intensif dari pihak Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Harapan ini sudah lama.

“Sudah beberapa tahun lalu, secara resmi kami memohon ada penelitian dan pelatihan kepada BPCB Jawa Tengah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang. Namun belum ada kabar lagi,” tandasnya.

Sambil menunggu tindakan nyata dari BPCB Jawa Tengah dan Pemkab Rembang, Abdullah menyatakan perlu dibangun museum masjid agar benda-benda temuan bersejarah ini terlindungi sesuai standar cagar budaya.

“Untuk sementara ini, benda-benda temuan bersejarah di areal Masjid Lasem kami simpan di lemari tertutup dan tempat khusus. Memang perlu dibangun museum masjid agar ada standar perlindungan cagar budaya,” harapnya.

Dari kajian sejarah, masa berdirinya Masjid Lasem belum dapat diketahui secara pasti. Namun beberapa prasasti yang ada di Masjid Lasem dapat menjadi data yang dihubungkan dengan masa pendirian maupun pemugaran masjid.

Di dalam ruang utama masjid terdapat lima prasasti berhuruf dan berbahasa arab serta satu prasarti berhuruf dan berbahasa Jawa. Empat di antara lima prasasti ini memuat angka tahun 1829 M, 1318 H, 1281 H, dan 1286 H.

Belum dapat diketahui angka tersebut berkenaan dengan pendirian atau pemugaran masjid, karena prasasti hanya berisi kalimat toyyibah atau kalimat pujian. Namun ada mustaka masjid tahun 1588 yang tersimpan hingga kini.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan