Dua Kilogram Emas Rampokan Maguan Dijual Murah

Rabu, 3 Agustus 2016 | 18:17 WIB
Perhiasan emas hasil kejahatan perampokan terhadap Sarno, pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, saat digelar ketika konferensi pers di Mapolres Rembang, Selasa (2/8/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Perhiasan emas hasil kejahatan perampokan terhadap Sarno, pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, saat digelar ketika konferensi pers di Mapolres Rembang, Selasa (2/8/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Dua kilogram emas yang dirampok dari Sarno, pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori dijual murah atau hanya senilai total Rp120 juta oleh komplotan pelaku.

Jika dua kilogram itu sama dengan dua ribu gram, maka dari hasil penjualan perhiasan emas berbagai bentuk itu hanya berharga Rp60.000 per gram, di bawah harga rata-rata emas “muda” yang Rp230.000 per gram.

Namun hasil penjualan tersebut, baru sebatas pengakuan para tersangka pelaku kepada penyidik di Kepolisian Resor Rembang, sehingga tidak serta merta dapat dipercaya.

Apalagi dari barang bukti yang diamankan dari para tersangka, polisi masih menyita beberapa gram perhiasan emas dalam wujud anting, cincin, dan kalung, yang sempat diberikan kepada istri sebagian tersangka.

“Emas itu dijual melalui perantara, yaitu tersangka TG kepada seseorang yang menjadi penadah. Penadah ini lokasinya jauh dan saat ini masih kami kejar,” beber Kasatreskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono.

Menurutnya, uang hasil penjualan perhiasan emas rampokan, sebagian besar telah digunakan oleh tersangka untuk membeli beberapa barang, seperti sepeda motor Suzuki Smash biru S 4566 HT, DVD player, dan amplifier.

“Berdasarkan keterangan awal dari tersangka, pembagian uang hasil kejahatan ini berbeda di antara tersangka, bergantung peran yang dijalani tersangka,” ujar Eko.

Dari pengakuan tersangka AG, yang memiliki peran penting sebagai eksekutor dan penganiaya korban Sarno hingga tewas, mengaku mendapatkan bagian Rp20 juta atau paling besar di antara tersangka lainnya.

“Sedangkan eksekutor lainnya, UB dan JN masing-masing mendapatkan bagian Rp17 juta dan Rp16 juta. Seorang eksekutor lagi yang kini masih buron, belum kami ketahui dapat bagian berapa,” katanya.

HD yang bertugas sebagai joki (pengantar eksekutor) dan seorang eksekutor yang menjadi buron, masing-masing mendapat bagian masing-masing Rp500 ribu dan Rp15 juta, sedangkan SW yang menjadi “penggagas” perampokan mendapat bagian Rp9 juta.

“Adapun TG yang menjadi perantara penjual hasil kejahatan mengaku mendapatkan bagian Rp2 juta, sehingga total pembagian hasil kejahatan hanya mencapai Rp79,5 juta,” ungkapnya merinci.

Eko menegaskan, pengakuan awal para tersangka itu akan terus dilakukan pengembangan karena penyidik menduga kuat bagian tiap tersangka berjumlah lebih dari pengakuan masing-masing dari mereka.

“Kami masih memburu dua orang. Satu berperan sebagai eksekutor perampokan, sedangkan satunya lagi berperan sebagai joki. Satu tersangka yang eksekutor dan kini buron itu katanya mendapat bagian Rp15 juta,” katanya.

Kepada wartawan, SW mengaku bahwa bagian uang Rp9 juta yang didapatnya digunakan untuk berobat dan buat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Saat malam kejadian saya hanya berada di rumah dan tidak kemana-mana. Dapat bagian Rp9 juta buat berobat dan kebutuhan rumah tangga,” ucapnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan