Dishub Perlu Perjelas Rambu “Forbidden” Kartini-Pemuda

Rabu, 14 Juni 2017 | 13:50 WIB

Rambu forbidden di pojok pangkal Jalan Kartini dari Jalur Pantura Rembang dianggap kurang jelas dan tidak tepat posisinya, terutama oleh pengguna jalan yang melaju dari arah Surabaya. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Dinas Perhubungan Kabupaten Rembang perlu memperjelas rambu “forbidden” atau larangan masuk Jalan Kartini hingga Jalan Pemuda bagi truk berat atau dengan tonase lebih dari delapan ton.

Upaya tersebut setelah kasus kecelakaan truk engkel ganda bermuatan mi instan yang mengalami rem blong dan menabrak tiga pemotor sehingga seorang pemotor di antaranya tewas di Perempatan Rebel pada bilangan Jalan Kartini.

Truk bertonase lebih dari delapan ton ini melaju dari arah Blora, dan sesuai dengan aturan lalu lintas yang berlaku, dilarang masuk melintas jalan dalam kota atau sepanjang Jalan Pemuda hingga Jalan Kartini, apalagi ada rambu peringatan.

“Dari arah utara sudah ada rambu forbidden. (Truk besar) Nggak boleh masuk. Dari selatan juga ada rambu larangan. Saya kira rambu itu sudah jelas bagi pengemudi. Jika tidak jelas, kita buat biar lebih jelas,” kata Suyono, Kepala Dishub.

Pihaknya menyatakan tidak mempertimbangkan menempatkan petugas dari Dinas Perhubungan guna mengontrol kemungkinan truk berat menerobos masuk jalur larangan karena tidak memiliki jumlah petugas lapangan yang memadai.

Menurutnya, seorang pengemudi semestinya paham rambu-rambu lalu lintas dan tahu alasan kenapa dipasang rambu-rambu larangan masuk, yang tentu saja dilatari oleh kerawanan jenis tertentu, misalnya jalur itu masih terbilang sempit.

“Kalau ternyata ada sopir truk besar yang nekat ngeblong, masuk ke jalur larangan, ya tentu ditindak dengan tilang. Tetapi kalau sudah sering melanggar, bisa saja dipertimbangkan untuk dicabut kepemilikan SIM-nya atau ditahan,” katanya.

Sementara itu, pascakasus kecelakaan pada Senin (12/6/2017) lalu, kerusakan berupa antara lain tiang lampu setopan di perempatan bagian barat sisi utara jalan yang ambruk, masih belum dipulihkan, setidaknya hingga Rabu (14/6/2017) siang.

“Kami rencanakan perbaikan selesai pada hari ini demi keselamatan pengguna jalan. Sejauh ini belum ada yang komplain mengenai ketiadaan lampu setopan di perempatan bagian barat, arah dari Jalan Ahmad Yani. Mungkin maklum,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan