Dilindungi Undang-undang, Wartawan Harus Santun

Thursday, 9 February 2017 | 14:52 WIB

ilustrasi. (Foto dikutip dari laman http://www.mimbar-rakyat.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang meminta kepada setiap wartawan agar tetap memegang kode etik serta santun dan beretika dalam melakukan kerja pers.

Ketua PWI Rembang Djamal A Garhan mengatakan, meski wartawan mendapat hak khusus dan keistimewaan serta dilindungi undang-undang dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya, tetapi mereka harus memahami cara mencari berita dan sikap dalam menghadapi narasumber.

“Wartawan harus memahami cara mencari berita dan sikap dalam menghadapi narasumber. Memahami aturan, kode etik, dan lainnya termasuk santun dalam melakukan kerja jurnalistik. Kerja pers dilindungi oleh undang-undang, tetapi wartawan tidak lantas kebal hukum,” katanya.

Pada momentum Hari Pers Nasional ke-72, Djamal juga menekankan bahwa wartawan melakukan tugas penting bagi masyarakat. Peran pers penting karena informasi yang mereka cari selanjutnya diteruskan kepada publik antara lain guna mencerdaskan masyarakat.

“Andai tidak ada wartawan, mungkin dunia ini ‘gelap’. Wartawan itu mencari informasi dan memberikannya lagi ke masyarakat. Narasumber juga mesti mengerti bahwa tugas wartawan itu penting,” katanya kepada mataairradio.com, Kamis (9/2/2017).

Mengenai wartawan yang menyalahgunakan kerja pers atau wartawan abal-abal, pihak PWI mengaku tak bisa memerangi sendirian. PWI sudah selektif dalam menyeleksi anggotanya, tetapi menurut Djamal, narasumber pun memegang peranan dalam mewujudkan pers yang sehat.

“Narasumber perlu memastikan tugas wartawan satu, cari berita. Tapi jika macem-macem berarti bukan wartawan. Narasumber bisa antisipasi atau tahu wartawan itu beneran atau tidak. Jika datang meminta berita dilayani saja. Kalau ngancam-ngancam ya laporkan ke polisi,” katanya.

Pihak PWI tidak memungkiri, sebagian narasumber ada yang seolah antiwartawan sehingga takut atau menolak kehadiran pekerja pers karena narasumber merasa tidak bersih atau melakukan kesalahan. Kondisi semacam itu rawan menyuburkan wartawan abal-abal.

“Mengantisipasi wartawan abal-abal, sikap PWI dari Pusat ke Daerah sudah jelas. Siapa yang mau jadi anggota mesti patuh kode etik jurnalistik. Dewan Pers juga sudah mengantisipasi berkembangnya wartawan abal-abal dengan menerapkan uji kompetensi wartawan (UKW),” tandasnya.

Di Kabupaten Rembang, menurutnya, kerja pers lumayan terdukung. Namun Djamal tidak memungkiri masih terjadi kekerasan terhadap insan pers, seperti dugaan kekerasan yang dilakukan oknum pekerja PT PJB PLTU Sluke terhadap wartawan di Rembang, yang kini ditangani polisi.

“Kekerasan terhadap wartawan terjadi antara lain karena pihak di luar wartawan tidak paham kerja pers dilindungi undang-undang. Sosialisasi tentang kerja pers sudah sering kali dilakukan agar pihak yang terkait tahu tentang kerja wartawan,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan