Dikira Penculik, Pengidap Gangguan Jiwa Bikin Geger

Rabu, 22 Maret 2017 | 20:06 WIB

Keluarga dari perempuan paruh baya pengidap gangguan jiwa saat berada di Mapolres Rembang guna mengonfirmasi seorang yang sempat dikhawatirkan warga sebagai pelaku penculikan, Senin (20/3/2017) petang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Seorang perempuan paruh baya pengidap gangguan jiwa bikin geger warga di Kelurahan Magersari Kecamatan Rembang dan para pengguna media sosial, baru-baru ini.

Awalnya, warga melihat seorang ibu, sudah dua hari mondar-mandir di wilayah kelurahan tersebut. Warga yang mengait-ngaitkan dengan isu penculikan terhadap anak-anak yang marak di media sosial segera menghubungi polisi.

Sejumlah polisi berusia muda yang sedang patroli bergegas ke lokasi dimaksud. Warga lantas menunjukkan posisi perempuan itu di belakang rumah salah satu penduduk di kelurahan setempat.

Tiga orang polisi lantas mendekati perempuan tersebut. Namun yang bersangkutan malah mencoba lari dan akhirnya diamankan ke Mapolres Rembang berikut barang bawaannya, Senin (20/3/2017).

Begitu dicek, barang bawaan yang digendong tersebut adalah kawat, jemuran, gembok, sapu tangan, baju, ember, kembang, pisau, dan lain-lain, sedangkan perempuan tersebut ternyata pengidap gangguan jiwa.

Yang bersangkutan diketahui sebagai warga Kecamatan Kayen, Pati. Pihak keluarga yang sedang melakukan pencarian telah datang ke Mapolres Rembang guna mengonfirmasi dan akhirnya membawanya pulang.

Meski demikian, kabar tersebut sudah berubah menjadi viral percobaan penculikan, di facebook. Padahal sebelumnya, polisi sudah mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan kabar di media sosial.

“Terkait berita penculian melalui Medsos kita sudah sosialisasikan melalui kegiatan sarasehan. Jangan percaya pada berita hoax yang tak benar,” kata Kapolres Rembang AKBP Sugiarto kepada mataairradio.com.

Kapolres meminta kepada masyarakat agar bijak menyikapi setiap informasi dengan cek, kembali cek, cek silang, dan cek terakhir. Hal itu supaya kabar palsu tidak menjadi semakin meresahkan masyarakat.

“Di Rembang tidak ada informasi (yang masuk ke polisi mengenai percobaan penculikan). Tetapi kita melalui kegiatan preemtif selalu imbau dan sosialisasikan. Tidak perlu resah karena memang di Rembang tidak ada,” katanya.

Menurutnya, berita hoax bertebaran merupakan dampak dari majunya teknologi dan penggunaan media sosial yang tidak bijak. Ia mengimbau kepada masyarakat agar menyaring berita sebelum membagikannya.

“Saring sebelum sharing Mas. Pertimbangkan dampaknya. Banyak manfaat atau mudaratnya. (Bertebaran berita hoax) Dampak dari majunya teknologi dan penggunaan Medsos yang tidak bijak,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan