Diduga Depresi karena Sakit, Tukang Becak Bunuh Diri

Jumat, 9 Februari 2018 | 18:03 WIB

Tempat kejadian perkara bunuh diri di Dukuh Palan Desa Pamotan Kecamatan Pamotan, Jumat (9/2/2018) pagi. (Foto: Mohammad Siroju Munir)

 

REMBANG, mataairradio.com – Seorang tukang becak di Dukuh Palan Desa Pamotan Kecamatan Pamotan bernama Samsul Hadi (52) bunuh diri di dapur rumahnya, Jumat (9/2/2018) pagi.

Diduga dia depresi atau tertekan karena sudah cukup lama menderita sakit di ulu hati.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Pamotan Aiptu Parjono mengungkapkan, pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB, Samsul diketahui oleh istrinya mengundang seorang petugas medis untuk memeriksa keadaan tubuhnya.

“Yang bersangkutan mengeluh sakit di ulu hati. Lalu mengundang Bu Tatik untuk memeriksa keadaan tubuhnya. Lalu diperiksa dan dikasih obat,” katanya.

Setelah itu, sang istri Suratmi meninggalkannya ke sungai untuk mencuci.

“Sepulang dari mencuci, sekitar pukul 11.30 WIB, Suratmi sudah mendapati suaminya menggantung di dapur dan sudah meninggal dunia,” katanya.

Polisi mengonfirmasi, Samsul merupakan buruh harian lepas yang biasa mengayuh becak.

“Kami tidak tahu secara pasti motif Samsul bunuh diri. Dugaan sementara adalah tertekan karena sakit di ulu hati sejak lama,” katanya.

Yang jelas begitu mendapat informasi dari warga, polisi segera meluncur ke tempat kejadian perkara bersama tim medis.

“Kami tadi juga langsung mengontak Tim Inafis dari Polres Rembang,” katanya.

Dari visum luar yang dilakukan tim medis dari Puskesmas Pamotan, tidak ditemukan tanda bekas kekerasan di tubuh Samsul. Dugaan kuat, Samsul bunuh diri dengan cara menggantung.

“Indikatornya keluar sperma dari kemaluan, keluar tinja dari dubur Samsul, serta tali simpul yang beraturan,” katanya.

Setelah dilakukan olah tempat kejadian, jenazah Samsul diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Sementara itu, baik pihak keluarga, RT, RW, maupun Kades setempat enggan memberikan tanggapan mengenai salah seorang warganya yang bunuh diri.

Kades Pamotan Abdul Rouf malah melarang mataairradio memberitakan peristiwa ini karena dirinya malu.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan