Didemo, Segel Kedai Susu Akhirnya Dibuka

Kamis, 11 Agustus 2016 | 14:53 WIB
Petugas dari Satpol PP Kabupaten Rembang membuka segel kedai susu Its Milk di bilangan Jalan Soetomo Rembang setelah pemerintah kabupaten setempat mengategorikan kedai itu sebagai usaha mikro sehingga belum dikantonginya izin gangguan tidak lagi menjadi hambatan usaha tersebut berjalan. (Foto: Pujianto)

Petugas dari Satpol PP Kabupaten Rembang membuka segel kedai susu Its Milk di bilangan Jalan Soetomo Rembang setelah pemerintah kabupaten setempat mengategorikan kedai itu sebagai usaha mikro, sehingga belum dikantonginya izin gangguan tidak lagi menjadi hambatan usaha tersebut beroperasi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Ratusan orang mengaku komunitas pecinta susu mendatangi Kantor Bupati Rembang, Kamis (11/2/2016) pagi. Mereka menyoal penyegelan kedai susu Its Milk di bilangan Jalan Soetomo Rembang, baru-baru ini.

Kedai ditutup pada 2 Agustus lalu karena dinilai belum mengantongi izin gangguan, sedangkan usaha itu tergolong sebagai mikro karena modal di bawah Rp50 juta yang semestinya cukup izin kepada pemerintah desa dan kecamatan.

Massa datang dengan membentangkan sejumlah spanduk bernada protes mulai dari tudingan diskriminasi usaha dan tuntutan agar pemerintah melindungi usaha mikro-kecil, hingga menenteng replika blender sebagai bentuk sindiran.

Salah satu dasar pihak pemerintah kabupaten melalui satuan polisi pamong praja menutup kedai susu tersebut adalah keluhan dari penghuni rumah dinas di sebelahnya atas suara bising dari blender ketika meracik minuman.

Muhammad Faizal Hidayat, Direktur Pusat Its Milk menilai, penyegelan usahanya berkesan ilegal, karena dasar yang dipakai untuk menutup Its Milk tidak jelas dasar aturannya, sehingga merugikan pihaknya.

“Semestinya, pemerintah tidak main segel, main tutup. Semestinya ada mediasi dong dari Pemerintah, dengan dipanggil dulu atau apa begitu. Ini nggak jelas kemarin dasar penutupannya apa, kalau memang usaha mikro tidak perlu HO,” katanya.

Ia menyebutkan, usahanya itu bermodal sekitar Rp40 juta, terdiri atas modal awal untuk sewa tempat Rp15 juta dan modal operasi Rp25 juta, sehingga terbilang usaha mikro yang semestinya didorong tumbuh oleh pemerintah karena termasuk usaha kreatif.

“Kami meminta kepada pemerintah agar membuka segel karena pemerintah tidak memiliki dasar untuk menutup usaha ini. Ini usaha kami para kawula muda. Usaha kami positif, mestinya didukung oleh pemerintah,” tegasnya.

Asisten I Bidang Hukum dan Pemerintahan pada Sekretariat Daerah Kabupaten Rembang Subakti yang menerima aksi unjuk rasa tersebut tidak banyak memberikan argumen setelah menyatakan bahwa usaha dengan modal di bawah Rp50 juta adalah usaha mikro.

“Usaha mikro, tidak perlu izin HO. Cukup ke desa dan kecamatan izinnya. Kalau kemudian ada yang keberatan dengan suara-suara yang disebut bising dari blender, kita akan coba fasilitasi. Soal segel bisa dibuka atau tidak, bukan ranah kami,” katanya.

Namun setelah memberikan skors atas pertemuan dengan perwakilan para pengunjuk rasa, yang kemudian diikuti dengan bubar demonstran, Asisten I yang mewakili Bupati didampingi Kepala KPPT Kabupaten Rembang bergegas rapat.

Tidak lama berselang, digelar lagi pertemuan yang ujungnya segel Its Milk dibuka. Hasil tersebut setelah pihak kedai susu menyepakati enam butir pernyataan di antaranya akan melakukan kegiatan usaha maksimal pukul 22.00 dan memindahkan alat yang menjadi sumber bising.

Selain itu, pihak Its Milk juga sepakat menjaga etika dan sopan santun dengan warga dan lingkungan sekitar, mengatur parkir kendaraan para pengunjung dengan baik, menyekat sisi timur tempat usaha, apabila ada kegiatan rehab tempat usaha agar dilakukan pada siang hari.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan