Dalam Setahun, Warga Miskin di Rembang hanya Berkurang 300 Orang

Rabu, 3 Januari 2018 | 18:27 WIB

Kepala BPS Kabupaten Rembang Amirudin. (Foto: Mohammad Siroju Munir)

 

REMBANG, mataairradio.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah warga miskin di Kabupaten Rembang hanya terkoreksi tipis pada tahun kemarin atau berkurang 300 orang saja.

Menurut catatan BPS, jumlah warga miskin pada 2016 di Kabupaten Rembang sebanyak 115.490 orang, sedangkan tahun 2017 berkurang menjadi 115.190 orang.

Kepala BPS Kabupaten Rembang Amirudin, Rabu (3/1/2017) siang, mengatakan, menurunnya jumlah warga miskin di kabupaten ini karena banyaknya program pemerintah.

Program itu antara lain mewajibkan organisasi perangkat daerah untuk menyertakan rencana pengentasan kemiskinan pada setiap daftar isian pelaksanaan anggaran atau DIPA-nya.

“Pastinya (penyebab menurunnya angka kemiskinan) Bappeda dan Setda yang tahu ya,” katanya.

Amiruddin menyatakan di Kabupaten Rembang, ada empat kecamatan yang menjadi kantong kemiskinan yaitu Sarang, Kragan, Sedan, dan Pamotan.

Berdasarkan data di pihaknya, penurunan angka kemiskinan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi.

“Begitu pertumbuhan ekonomi meningkat, maka angka kemiskinan menurun,” katanya.

Tahun 2017 kemarin, angka pertumbuhan ekonomi di Rembang, berkisar lima persen.

Penyumbang terbesarnya masih dari sektor pertanian dan perikanan yang mencapai 30 persen.

Namun meskipun sektor pertanian dan perikanan didorong, andilnya dalam pertumbuhan ekonomi, maksimal hanya sebesar satu persen.

Amirudin menambahkan, berdasarkan hasil sensus ekonomi 2017, untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi di Rembang, maka sektor usaha mikro kecil perlu dibina secara lebih serius.

“Sektor perdagangan dan usaha mikro kecil, lebih menopang pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Namun sektor industri di bidang pertanian dan perikanan juga perlu diperhatikan.

“Di sektor perikanan terutama, agar ikan tidak dijual dalam bentuk segar ke daerah lain, tetapi agar dikelola di pabrikan dulu dalam bentuk pengalengan misalnya,” katanya.

Sementara industri pabrik semen, karena baru beroperasi pada semester kedua 2017, dampak distribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi masih belum kelihatan.

“Mungkin tahun depan baru tercatat distribusinya,” pungkasnya.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan