Cantrang Boleh Beroperasi, Asosiasi: Februari On

Kamis, 18 Januari 2018 | 15:53 WIB

Kapal-kapal cantrang berlabuh di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang. Menurut sumber di kalangan nelayan, rata-rata nelayan cantrang belum bersiap dengan alat tangkap lain. Kebanyakan dari mereka menunggu modal cukup guna menggalang jaring lain yang baru. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Nelayan cantrang di Kabupaten Rembang lega setelah Pemerintah memutuskan untuk memperbolehkan pemakaian jaring cantrang sampai waktu yang tak ditentukan.

Namun Sekretaris Asosiasi Nelayan Dampo Awang Bangkit Rembang Lestari Priyanto mengatakan nelayan tidak bisa serta merta melaut.

“Kita mesti menanti surat keputusan resmi dari Pemerintah,” katanya kepada mataairradio.

Ia mengakui, beberapa nelayan mulai bersiap menghimpun perbekalan untuk kembali melaut.

Hanya saja, untuk kembali berlayar, surat-menyurat kapal seperti SIPI dan SIB harus lebih dulu beres.

Lestari juga mengatakan, diperkirakan nelayan baru bisa secara efektif melaut mulai bulan Februari mendatang.

“Sisa waktu di bulan Januari ini, bisa dimanfaatkan oleh nelayan mengurus segala perizinan yang sudah habis pada 30 Desember 2017,” katanya.

Mengenai keputusan Pemerintah yang melarang penambahan kapal cantrang baru, asosiasi nelayan tidak mempersoalkan.

“Oh kalau itu (larangan tambah kapal baru) sudah berlaku sudah lama. Sejauh ini pun tidak ada tambahan kapal baru,” terangnya

Jumlah kapal cantrang di Rembang masih bertahan di angka 330-an unit.

“Kalau pun ada penambahan, itu bukan kapal baru, melainkan hasil jual beli dari nelayan lain di luar daerah secara sah,” katanya.

Keputusan Pemerintah untuk memperbolehkan pemakaian jaring cantrang sampai waktu yang tak ditentukan, hanya berlaku bagi kapal-kapal nelayan yang beroperasi di sepanjang Pantai Utara Jawa.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, perpanjangan waktu penggunaan cantrang ini bukan berarti nelayan bisa terus-terusan menggunakan cantrang, melainkan untuk keleluasaan.

Pemerintah memberi waktu leluasa bagi nelayan untuk mengganti alat tangkap ikannya menjadi alat tangkap yang ramah lingkungan, sembari mereka tetap bisa melaut. Tetapi dilarang tambah kapal.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan