Senin Depan, BPKP Kroscek Saksi Kasus PPID

Jumat, 13 September 2013 | 12:55 WIB
Kepala Seksi Pidsus Kejari Rembang, Ali Mukhtar. (Foto:Puji)

Kepala Seksi Pidsus Kejari Rembang, Ali Mukhtar. (Foto:Puji)

REMBANG, MataAirRadio.net – Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan atau BPKP Jawa Tengah akan kembali datang di Kejaksaan Negeri Rembang pada Senin (16/9) depan.

Kali ini, BPKP Jateng akan mengkroscek sejumlah saksi dalam kasus dugaan korupsi proyek peningkatan infrastruktur daerah atau PPID tahun 2011.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Rembang Ali Mukhtar, Jumat (13/9) siang mengatakan, selain akan mengkroscek saksi, bisa jadi BPKP memerlukan tambahan data.

Langkah itu untuk menetapkan kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi proyek senilai Rp1,5 miliar tersebut. Sebelumnya pada Kamis 5 September kemarin, empat orang auditor dari BPKP datang di Kejari Rembang untuk mulai melakukan audit perhitungan kerugian negara terhadap kasus tersebut.

Sementara itu, Koordinator Lembaga Study Pemberdayaan Masyarakat atau Lespem Rembang Bambang Wahyu Widodo meyakini, pada pekan depan audit perhitungan kerugian negara atas kasus dugaan korupsi PPID 2011, akan tuntas.

Kasus dugaan korupsi PPID 2011 melibatkan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Rembang Agus Supriyanto dan PPK proyek tersebut Abdul Muttaqin.

Lespem mengingatkan pihak Kejaksaan Negeri Rembang, kejadian mangkir hingga beberapa kali yang dilakukan oleh Dandung Dwi Sucahyo, tersangka kasus dugaan korupsi buku ajar tahun 2011, jangan sampai terulang. Untuk mengantisipasinya, menurut Lespem, pihak Kejari mestinya melakukan penahanan.

Proyek Peningkatan Infrastruktur Daerah tahun 2011 yang disidik Kejaksaan Negeri Rembang adalah peningkatan ruas jalan antara Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem hingga Desa Wonokerto Kecamatan Sale. Panjang ruas jalan tersebut mencapai 6,9 kilometer.

Temuan penyimpangan antara lain terletak pada penggelembungan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di proyek tersebut. Dilaporkan, pekerja yang dipekerjakan mencapai 370 orang, padahal kenyataannya sekitar 20 orang saja. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan