Berdalih Disalahi BTL, Toko Didenda Rp13 Juta PLN

Kamis, 17 Maret 2016 | 19:24 WIB
Toko di bilangan Jalan Kartini yang dikenai denda oleh PLN gara-gara tukang listrik membuka perangkat meter sehingga los setrum. (Foto: Pujianto)

Toko di bilangan Jalan Kartini yang dikenai denda oleh PLN gara-gara tukang listrik membuka perangkat meter sehingga los setrum. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Seorang pemilik toko di bilangan Jalan Kartini Kecamatan Rembang didenda Rp13 juta oleh PT PLN (Persero) Rayon Rembang.

PLN menemukan adanya penyalahan perangkat segel dan meter prabayar di toko itu, sehingga arus listrik menjadi los setrum.

Santoso, pemilik toko itu mengaku kaget dengan pengenaan denda dari PLN. Apalagi aliran listrik di tokonya akan diputus sementara.

Ia pun bercerita, istrinya sempat memanggil seorang tukang dari biro teknik listrik (BTL) untuk membenahi listrik di toko pada sekitar kurang dari satu bulan yang lalu.

Tetapi ia berdalih tidak tahu apa yang dilakukan oleh tukang listrik, sehingga terjadi los setrum. Atas pengenaan denda dan rencana pemutusan ini, Santoso mengaku sudah menghubungi Manajer PLN Rayon Rembang Jarmuji.

“Intinya agar denda tidak sebanyak itu dan listrik tidak diputus. Kalau diputus, kami jadi nggak bisa berusaha. Apalagi Sabtu (12/3/2016) kemarin, ada pencurian di toko kami. HP anak saya dicuri.

Malingnya terekam CCTV. Kalau aliran listriknya putus, tapi CCTV-nya dibutuhkan untuk penyelidikan polisi, kan repot,” tandasnya.

Santoso juga menyatakan, listrik di tempat usahanya berdaya 2.200 watt. Usaha yang dikelola anaknya adalah toko mainan anak.

Di dalamnya ada komputer dan CCTV, yang dianggap mencukupi kebutuhan daya listriknya. Hingga Kamis (17/3/2016) ini, umur usaha itu pun kurang dari satu bulan.

Tapi ia tidak menyebutkan jenis kerusakan seperti apa sehingga sampai memanggil tukang listrik untuk membenahi. Yang jelas, ia menegaskan tidak pernah memerintahkan tukang untuk mencuri listrik atau los setrum.

“Tukang listrik itu pun sudah mengakui kesalahannya kepada PLN,” katanya.

Santoso mengaku sempat berpikir untuk meminta pertanggungjawaban dari tukang listrik yang dikenalnya sebagai warga Kabongan Kidul.

“Tetapi, tukang listrik itu kini sedang dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan. Kan kasihan. Kami minta kebijakan dari PLN. Masak harus Rp13,5 juta. Kalau Rp3-4 juta, mungkin kami masih pertimbangkan,” tegasnya.

Manajer PLN Rayon Rembang Jarmuji ketika dikonfirmasi secara terpisah membenarkan bahwa pelanggan pemilik toko di Jalan Kartini itu memang menyuruh tukang untuk memperbaiki listrik.

“Namun meskipun pemilik toko tidak tahu ada los setrum, tetapi pelanggan harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia menegaskan, membuka KWH meter sehingga menjadi los setrum adalah sebuah pelanggaran. Penindakannya memang dengan pemutusan arus listrik untuk sementara.

“Namun pemutusan belum bisa kami lakukan, karena toko itu tutup,” tegasnya.

Soal besarnya denda, itu dihitung dengan sistem atau tidak secara manual. Dibenarkannya, nilai denda sekitar Rp13 juta.

Jarmuji menyatakan tidak bisa mengurangi denda sehinggga listrik bisa kembali mengalir. Pihaknya hanya memberi kebijakan agar pembayaran denda bisa diangsur 6-8 kali.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan