Bende Becak Kembali Dijamas

Jumat, 26 Oktober 2012 | 11:52 WIB

Penjamasan Bende Becak

Rembang – MataAirRadio.net Bende Becak, sebuah gong kecil yang konon merupakan jelmaan seorang utusan Brawijaya kelima bernama Becak, Jumat (26/10) 10 Dzulhijah 1433 Hijriah, kembali dijamas.
Ratusan warga dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur tumplek blek di pelataran rumah Abdul Wahid, warga Desa Bonang Kecamatan Lasem, sang juru kunci Bende Becak.
Semangat Sunan Bonang dalam menyiarkan Islam pada abad ke-15 melalui gong kecil, ternyata mampu menghadirkan ratusan warga untuk datang mengadiri ritual penjamasan Bende Becak yang digelar setahun sekali itu.
Juru kunci bende becak, Abdul Wahid menurutkan, kisah bende becak bermula dari dikirimnya surat oleh Sunan Bonang kepada Raja Majapahit Brawijaya kelima pada sekitar tahun 1510 Masehi. Isi dari surat itu antara lain mengajak Brawijaya kelima sang penguasa nusantara memeluk Islam.
Namun, Brawijaya menolaknya dan mengirim seorang utusan bernama Becak untuk menyampaikan surat penolakan itu kepada Sunan Bonang.
Sang utusan Majapahit itu pun tiba di kediaman Sunan Bonang, di Hutan Kemuning, yang sekarang menjadi Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, menjelang maghrib sebelum hari raya Idul Adha.
Setelah menyerahkan surat itu, Becak beristirahat dan menembang lagu-lagu Jawa. Alunan tembang itu mengganggu Sunan Bonang yang sedang mengaji bersama sejumlah muridnya.
Para santri pun bertanya kepada Sunan Bonang perihal suara itu. Sunan Bonang lantas menjawab bahwa itu adalah suara bende. Benar saja, setelah semua santri selesai mengaji, mereka mengecek ke asal suara. Saat itu si Becak sudah tidak ada lagi dan berubah wujud menjadi bende.
Sejak saat itu, bende becak menjadi sarana siar Islam yang digunakan Sunan Bonang. Dan sejak sepeninggalnya, Bende itu hampir selalu berbunyi ketika akan ada kejadian penting atau bencana. Seperti saat Belanda hendak menduduki Lasem pada puluhan tahun silam.

Hingga kini, Bende Becak masih ada dan tersimpan di rumah juru kunci, Abdul Wahid. Setiap 10 Dzulhijah, saat usai salat Idul Adha, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan juru kunci menjamas Bende Becak tersebut.

Dalam upacara penjamasan, juru kunci menyediakan air bunga jamasan di lima tempat, ketan kuning dengan unti atau parutan kelapa bercampur gula jawa. Juru kunci menaruh ketan kuning itu di atas rakitan potongan bambu.
Setelah tokoh agama dan masyarakat menjamas Bende Becak serta batu penabuhnya, ketan kuning plus unti, wadah ketan kuning, dan air bekas jamasan, dibagikan ke masyarakat. Mereka datang dari berbagai kota, antara lain Rembang, Pati, juga Demak.
Saruni, warga RT 3 RW 1 Desa Rojosari Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak menyatakan, dirinya sengaja datang sejak jam sebelas malam atau malam takbiran Idul Adha agar tidak ketinggalan ritual tahunan penjamasan bende becak.
Bersama keluarganya Saruni mengaku ingin mendapatkan bagian rakitan potongan bambu yang sebelumnya dipakai untuk keperluan penjamasan Bende Becak, sebagai saran ngalap berkah dari Sunan Bonang.

Berbeda dengan Saruni, Badriyah warga RT 2 RW 3 Desa Bonang Kecamatan Lasem mengaku ingin mendapatkan bagian air sisa penjamasan bende becak. Ia berencana menggunakan air itu untuk menyelamati sepeda motor keponakannya yang baru saja terlibat kecelakaan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang, Sunarto mengatakan, pihaknya berencana mengatur acara budaya Islam tersebut dengan lebih baik di masa mendatang.

Menurutnya, budaya royokan antarwarga yang menginginkan air, bambu, atau kain mori sisa penjamasan kurang memberikan ruang kepada wisatawan mancadaerah yang ingin mengikuti ritual penjamasan bende becak.
Sunarto pun mengimbau agar warga tidak memuja barang-barang tersebut, tetapi lebih meneladani spirit Sunan Bonang dalam menyebarkan ajaran Islam.

Ritual penjamasan bende becak yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga hampir pukul 10.00 tersebut berlangsung dibawah pengamanan pengendali massa dari Polres Rembang dan aparat TNI dari Koramil Lasem sehingga berlangsung aman. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan