Belum Ada Nelayan Cantrang Urus SIPI dan SLO

Kamis, 12 Januari 2017 | 14:11 WIB

Nelayan cantrang di Kabupaten Rembang masih belum berani melaut menangkap ikan. Mereka menanti sosialisasi resmi kalau memang penggunaan cantrang diperpanjang hingga 30 Juni 2017. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Kabupaten Rembang menyatakan belum ada satu pun dari nelayan cantrang yang mengurus surat izin penangkapan ikan (SIPI) dan surat laik operasi (SLO) sebagai dokumen resmi berlayar.

Menurut Kepala Kantor PPP Tasikagung Sukoco, memang ada sembilan orang nelayan yang menemuinya pada Kamis (12/1/2017) pagi, tetapi mereka baru sebatas bertanya lebih detail soal syarat mengurus SIPI dan SLO, yang mesti disertai pernyataan siap mengganti cantrang.

“Syarat berupa surat pernyataan siap mengganti alat tangkap dari cantrang ke alat tangkap lain yang direkomendasikan, masih berlaku. Besok pagi (13/1/2017) pukul 09.00 WIB, kami ada rapat koordinasi di Provinsi terkait dengan payung hukumnya,” katanya.

Ia mengakui, nelayan cantrang di Kabupaten Rembang tetap berharap agar penggunaan alat tangkap tersebut tetap diperbolehkan, tapi aturan telah jelas melarang penggunaan cantrang, sebagaimana digariskan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Sampai saat ini belum ada yang urus SIPI dan SLO. Tetapi kami harus menyelesaikan dulu payung hukumnya. Mudah-mudahan bisa cepat. Kami tetap berharap, kalau bisa minggu depan segala sesuatu berkaitan dengan payung hukum, selesai semua. Kita kooperatif,” katanya.

Rasno, nelayan cantrang di Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang membenarkan, di antara teman-temannya memang belum mengurus SIPI dan SLO, yang didahului dengan membuat surat pernyataan siap ganti alat tangkap. Diakuinya, nelayan cantrang keberatan dengan aturan itu.

“Nelayan ragu mengganti alat tangkap. Sebab, ganti alat tangkap mesti juga memodifikasi kapal. Ganti alat tangkap plus modifikasi kapal prediksi habis dana sekitar Rp2,2 miliar. Kalau harus pinjam bank, bank mana yang mau minjami. Lha wong kita sudah punya utang bank,” katanya.

Kalau pun tetap dipaksakan ganti alat tangkap dari cantrang ke misalnya gillnet, menurutnya, butuh waktu setidaknya dua tahun. Selain kendala butuh modal besar, pergantian dan modifikasi kapal seiring penggantian cantrang, juga membutuhkan waktu setidaknya tiga bulan per kapal.

“Untuk memodifikasi satu kapal, misalnya ganti freezer, butuh waktu tiga bulan. Sementara jumlah kapal cantrang di Rembang sekitar 330 kapal dan jumlah tukang kapal hanya sekitar 100. Kan butuh waktu nggak cuma enam bulan atau satu tahun,” katanya.

Ia juga mengatakan, alat tangkap jenis gillnet yang direkomendasikan sebagai pengganti cantrang, bukanlah alat tangkap yang benar-benar baru di kalangan nelayan Rembang. Rasno mengaku sempat lama menggunakan gillnet sebelum beralih ke cantrang.

“Kalau pakai gillnet, pengalaman saya pribadi, hasilnya sangat minim. Kemarin nelayan Juana juga ngeluh rugi melaut pakai gillnet. Kalau bekal habis Rp150 juta, dapatnya cuma Rp50 juta, jadi minus Rp100 juta. Kita mau cepat melaut, tapi perpanjangan enam bulan tidak cukup,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan