Bangunan Bakal Sanggar Sapto Darmo Dirusak Massa

Selasa, 10 November 2015 | 18:21 WIB
Bangunan bakal sanggar bagi penghayat Sapto Darmo di Desa Plawangan Kecamatan Kragan, menjadi sasaran kejengkelan warga, Selasa (10/11/2015) siang. (Foto: Pujianto)

Bangunan bakal sanggar bagi penghayat Sapto Darmo di Desa Plawangan Kecamatan Kragan, menjadi sasaran kejengkelan warga, Selasa (10/11/2015) siang. (Foto: Pujianto)

 

KRAGAN, mataairradio.com – Bangunan rumah setengah jadi yang ditengarai akan dipakai untuk sanggar peribadatan bagi para penghayat Sapto Darmo di Desa Plawangan Kecamatan Kragan dirusak massa, Selasa (10/11/2015) siang.

Kamar mandi di bagian depan rumah sisi utara dijebol pada bagian pintunya dan tampak ada bekas aktivitas pembakaran.

Genting berbahan semen yang ditumpuk di depan rumah dan siap dipasang, tampak hancur diduga dipecahi secara beramai-ramai oleh warga.

Diduga, massa nekat melakukan perusakan karena merasa jengkel dengan sikap seorang tokoh penghayat Sapto Darmo, Sutrisno, yang masih saja meneruskan pembangunan sanggar itu, padahal sudah ada kesepakatan agar dihentikan karena tidak diizinkan warga.

Warga hanya mengizinkan kelanjutan bangunan itu asalkan dipakai untuk rumah tinggal. Badruzzaman, salah satu tokoh pemuda di Plawangan tak tahu persis aksi anarkhistis warga.

“Mungkin warga jengkel karena (Sutrisno) mengingkari kesepakatan. Tapi aksi anarkhis ini, kami sesalkan,” katanya kepada mataairradio.

Perusakan bangunan setengah jadi yang ditengarai akan dipakai untuk sanggar Sapto Darmo itu mengundang kedatangan aparat kepolisian dari Polres Rembang.

Kapolres Ajun Komisaris Besar Winarto terjun langsung dan memastikan lokasi perusakan sudah dipasangi garis batas polisi.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Rembang Kartono yang ikut turun ke lapangan mengaku melakukan mediasi antara masyarakat dengan penghayat Sapto Darmo.

“Tadi Pak Sutrisno tidak ada, karena katanya ada keperluan di Rembang,” ungkapnya.

Menurut Kartono, mediasi dilakukan agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Ia menilai, aksi anarkhistis warga pecah akibat miskomunikasi karena sudah ada kesepakatan dihentikan karena tak ada izin, tapi pembangunannya malah dilanjutkan.

Kartono mengaku akan memanggil Sutrisno pada pertemuan di Kantor Kesbangpolinmas Rembang, Rabu 11 November ini.

Pihaknya akan meminta penjelasan dari Sutrisno mengenai alasan melanjutkan lagi pembangunan bakal sanggar itu, padahal sudah tahu ada penolakan bulat dari warga.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan