Bagi-bagi Gula, Warung Kopi Ingin Hapus Stigma

Selasa, 22 Maret 2016 | 18:52 WIB
Ilustrasi (Foto:Rif)

Ilustrasi (Foto:Rif)

 

SULANG, mataairradio.com – Sebagian pelaku warung kopi di Kabupaten Rembang ingin menghapus stigma terhadap usaha mereka.

Warung kopi yang selama ini identik dengan mengumbar pramusaji berpakaian tidak seronok cenderung mesum, hendak diubah menjadi usaha lebih positif.

Salah satu caranya, menurut Ketua Paguyuban Warung Kopi di Kabupaten Rembang “Pesona”, Jowansyah, dilakukan dengan membagi-bagikan 2 kilo gula kepada warung-warung kopi yang siap patuh pada aturan.

32 warung kopi menerima bagian gula secara gratis, Selasa (23/3/2016) siang.

Mereka yang sudah menerima bagian gula itu diikat dengan ketentuan untuk patuh pada aturan Pemerintah. Misalnya siap tertib izin dan tak akan menjual atau mengedarkan minuman keras.

“Terhadap mereka yang belum izin, kami akan membantu akses ke penyedia perizinan yang untuk warung kopi cukup di desa dan kecamatan saja,” katanya.

Mengenai jam buka, Jowansyah menyebutkan, anggota paguyuban warung kopi “Pesona” wajib tutup pukul 00.00 WIB. Aturan berlaku lain jika di bulan Puasa.

Menurutnya, sebagian warung kopi di Rembang, beroperasi mulai pukul 09.30 WIB, meski mereka boleh buka sejak pukul 07.00 WIB.

Mengenai masih banyaknya warung kopi yang buka hingga melantur dari jam, sejak masuk sebagai anggota paguyuban, mereka mesti patuh.

“Soal pakaian yang tidak senonoh, kami akan membina para pramusaji agar menjaga sopan santun berpakaian,” tandasnya.

Langkah konkretnya, ia mengaku berencana menerapkan seragam batik bagi mereka melalui kebijakan pemilik usaha warung kopi.

Ia berpendapat, jika baju yang dipakai atasan sudah bercorak batik, maka akan tidak pantas kalau mengenakan bawahan berupa rok mini.

Jowan menegaskan, warung kopi perlu kembali pada konsep usaha yang positif karena potensial mendukung kepariwisataan dan menggerakkan roda perekonomian daerah.

Ia mencontohkan, kebutuhan kopi di Rembang cukup tinggi sebagai dampak banyaknya kedai. Belum susu dan selampai atau tisu.

Pihak paguyuban berencana menjalin kerjasama dengan produsen bahan-bahan tersebut. Setidaknya agar para pelaku usaha bisa memperoleh produk-produk itu dengan harga yang lebih murah.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan