Anggotanya Ribuan, Anak PUNK Dicap Meresahkan di Rembang

Kamis, 17 Mei 2018 | 14:50 WIB

Polisi merazia anak-anak punk di Rembang, baru-baru ini. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Jaringan anak muda urakan namun kreatif (PUNK) yang anggotanya mencapai ribuan di Kabupaten Rembang dicap meresahkan.

Di antara alasannya adalah karena jaringan mereka sudah disusupi peredaran Narkoba serta seks bebas. Apalagi, penyebarannya sudah sampai ke kecamatan, desa, bahkan masuk sekolah.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengungkapkan, jaringan anak PUNK ini telah “meracuni” seorang siswi kelas II SMP di Pamotan sehingga kecanduan pil Narkoba.

Menurutnya, ketika seseorang terjebak pada Narkoba, Miras, dan seks bebas, maka akan berpotensi menjelma sebagai pelaku kejahatan.

“Sekarang sudah menyebar, jaringan anak PUNK sudah masuk sekolah. Di SMP tertentu, ada anak kelas II SMP sudah masuk jaringan anak PUNK. Kena Narkoba,” katanya.

Di Kabupaten Rembang, jaringan anak PUNK berasal dari hampir semua kecamatan, tak terkecuali Rembang, Sarang, Pamotan, dan Sedan yang dikenal sebagai sarangnya para agamawan.

Bupati mengaku prihatin dengan maraknya anak PUNK, termasuk gelandangan dan pengemis (Gepeng).

Bila tidak ada aksi untuk menertibkan dan menyadarkan mereka, Hafidz berpendapat, akan membahayakan bangsa.

“Saya meminta kepada pihak kepolisian, Satpol PP, dan dinas sosial untuk bekerja bersama guna menertibkan mereka, terlebih di bulan Ramadan,” katanya.

Kepala Bidang Ketertiban Umum, Ketenteraman Masyarakat, dan Penegakan Perda pada Satpol PP Kabupaten Rembang Heru Susilo menyatakan siap menertibkan keliaran anak PUNK.

Pihaknya sudah mengagendakan razia terhadap anak punk, termasuk Gepeng, guna menciptakan suasana tertib dan nyaman selama Ramadan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan