Anggota Jemaah Umrah Terlibat Asusila Menanti Deportasi

Senin, 18 Juli 2016 | 20:51 WIB
Masriyatun berdiri di samping foto suaminya, Sarman yang menunggu deportasi dari Arab Saudi setelah terlibat kasus asusila saat umrah pada awal Desember 2015. (Foto: Pujianto)

Masriyatun berdiri di samping foto suaminya, Sarman yang menunggu deportasi dari Arab Saudi setelah terlibat kasus asusila saat umrah pada awal Desember 2015. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Seorang anggota jemaah umrah asal Desa Turusgede Kecamatan Rembang yang sempat dilaporkan mataairradio tertinggal di Mekkah, Arab Saudi, pada akhir 2015, Sarman (75), ternyata baru saja menjalani hukuman.

Hukuman itu setelah Sarman dinyatakan berbuat asusila dengan seorang pria Yaman di sebuah toilet umum di Mekkah ketika masih menjalani ritual ibadah umrah pada awal Desember tahun lalu.

Sarman yang merupakan warga RT 2 RW 1 Desa Turusgede menjalani hukuman sejak 3 Desember 2015 hingga 28 Mei 2016, tapi yang bersangkutan belum berkepastian mengenai kapan bisa pulang kembali ke Indonesia, setidaknya hingga 18 Juli 2016.

“Saya dan suami berangkat umrah melalui biro perjalanan Namira Tour Umrah dan Haji Plus Cabang Rembang. Kami berangkat 29 November 2015,” kenang istri Sarman, Masriyatun.

Ia menuturkan, baru selama enam hari di Mekkah, Sarman dinyatakan hilang oleh pihak biro perjalanan umrah tersebut, setelah sempat diketahui oleh anggota jemaah umrah lain mengisi air zam-zam.

“Saya tidak tahu persis kejadiannya, karena jemaah pria dan wanita dipisah. Kata jemaah di kelompoknya, suami saya hilang setelah selesai mengisi mengisi air zam-zam. Setelah itu tidak pernah terdengar kabarnya,” tuturnya.

Sebelum pulang dari Tanah Suci, dirinya sudah beberapa kali menanyakan kepada petugas biro, tetapi pihak Namira menjawab bahwa suaminya sudah diurus dan bisa dipulangkan.

“Beberapa kali petugas Namira datang ke rumah bilang, Mbah Sarman akan pulang. Terakhir sebelum Lebaran kemarin kembali menjanjikan suami saya akan pulang. Namun hingga kini belum jelas kapan pulangnya,” tandasnya.

Pihak keluarga yakin, Sarman adalah korban dalam hal keterlibatannya dalam kasus asusila dengan seorang Yaman sehingga menyeretnya ke balik penjara dan dicambuk 80 kali.

Sementara itu, Pimpinan Namira Cabang Rembang, Fitrisari kepada wartawan menyatakan, berbagai usaha baik melalui pendekatan ke Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Arab Saudi sudah dilakukan perusahaannya demi kepulangan Sarman.

“Usaha kami terkendala oleh aturan hukum yang berlaku di Arab Saudi. Hukuman penjara dan cambuk sudah dilakukan. Kepulangan Mbah Sarman tinggal menunggu putusan Mahkamah di Arab Saudi untuk deportasi,” terangnya.

Pihak Namira, kata Fitri, sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memulangkan Sarman ke Indonesia, bahkan dijanjikannya bahwa dalam satu atau dua bulan ini, yang bersangkutan sudah bisa dipulangkan ke Indonesia.

“Saat ini tinggal menunggu penetapan surat deportasi. Kalau tidak akhir bulan ini, ya awal bulan depan Mbah Sarman sudah bisa pulang,” pungkas Fitri.

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah pada Kantor Kementerian Agama Rembang Shalehuddin menyatakan tidak mendapat kabar soal nasib anggota jemaah umrah asal kabupaten ini yang belum bisa pulang ke Tanah Air.

“Urusan itu tidak menjadi kewenangan kami, tetapi biro umrah yang memberangkatkannya. Kewenangan kami hanya menyangkut perizinan biro umrah, tidak sampai itu (anggota jemaah yang dihukum dan belum bisa dipulangkan, red.),” terangnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan