Alokasi Pupuk Ditambah, Distanhut Akui Ada Kerawanan

Senin, 12 Desember 2016 | 12:37 WIB
Jatah pupuk bersubsidi jenis Phonska bagi petani tiga kecamatan di Kabupaten Rembang direalokasi karena tingkat penyerapan pupuk jenis tersebut yang rendah. (Foto: Pujianto)

Jatah pupuk bersubsidi jenis Phonska bagi petani tiga kecamatan di Kabupaten Rembang direalokasi karena tingkat penyerapan pupuk jenis tersebut yang rendah. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Tambahan alokasi pupuk bersubsidi untuk petani di Kabupaten Rembang membawa angin segar karena tingkat kebutuhan mereka akan tercukupi. Namun di balik itu, pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) setempat mengakui ada kerawanan.

Kepala Seksi Usaha Tanaman Pangan pada Distanhut Kabupaten Rembang Ika Himawan Affandi mengungkapkan, kerawanan itu berupa potensi kebocoran pupuk ke daerah Jawa Timur, dalam hal ini Kabupaten Tuban.

“Waktu kita turun ke daerah Sedan dan Sarang beberapa waktu lalu, sempat ada cerita dari petani kalau daerah Tuban kekurangan pasokan. Ini memicu kerentanan (kebocoran ke Jawa Timur),” katanya kepada mataairradio.com, Senin (12/12/2016).

Menurutnya, daerah perbatasan Kabupaten Rembang seperti Sarang, Sale, dan Bulu akan mendapat perhatian dari Tim Verifikasi di kecamatan, guna mengantisipasi kerawanan kebocoran pupuk bersubsidi ke daerah Tuban.

“Kalau bocor, jatah petani kita berkurang sehingga merugikan. Kalau bocor ke Blora, kemungkinan kecil karena Blora pun dapat tambahan jatah dari provinsi. Kalau Sumber dan Kaliori, aman, karena stok pupuk di Pati cukup,” paparnya.

Ika mengajak berbagai pihak untuk ikut mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi di daerah ini, sehingga tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu dan tepat mutu.

“Tidak perlu ada lagi kepanikan akan terjadinya kelangkaan pupuk. Jika ada pasokan pupuk tersendat, hal itu semata karena kebutuhan yang berbarengan,” katanya.

Jumat 9 Desember lalu, Kabupaten Rembang diputuskan kembali mendapat tambahan jatah alokasi pupuk bersubsidi berupa 1.700 ton urea, 300 ton SP-36, 718 ton ZA, dan 600 ton NPK.

Padahal pada November lalu, Rembang juga dapat tambahan 1.000 ton urea, 800 ton ZA, dan 450 ton SP-36, sehingga jumlah alokasi pupuk di Rembang sepanjang tahun ini, menjadi yang terbanyak dalam sejarah.

“Untuk tambahan alokasi pupuk bersubsidi dari Pusat ini, perlu diterbitkan SK Bupati tentang Kebutuhan dan HET Pupuk Bersubsidi,” pungkas Ika.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan