Almarhumah Nyai Hajah Siti Fatmah di mata Gubernur dan Istrinya

Kamis, 30 Juni 2016 | 23:24 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menunaikan  salat jenazah almarhumah Nyai Hajah Siti Fatmah di rumah duka, kediaman KH Ahmad Mustofa Bisri, kompleks Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. (Foto: Pujianto)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menunaikan salat jenazah almarhumah Nyai Hajah Siti Fatmah di rumah duka, kediaman KH Ahmad Mustofa Bisri, kompleks Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan istrinya Siti Atiqah Supriyanti datang bertakziah atas wafatnya Nyai Hj Siti Fatmah, istri Gus Mus, di rumah duka, kompleks Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Kamis (30/6/2016) malam.

Seusai bertakziah dan menunaikan salat jenazah, Ganjar yang didampingi istrinya dan Bupati Rembang Abdul Hafidz memberikan kesan terhadap almarhumah yang dikenang tidak banyak bicara menjelang wafat.

“Kalau Gus Mus cerita, beliau itu perempuan yang selalu mendampingi suami, tidak pernah pisah, dan punya tabah yang tinggi. Karena ceritanya itu waktu mau ‘sedo’ tidak banyak yang dibicarakan. Selalu meminta maaf dan meminta doa khusnul khotimah,” tutur Ganjar mengutip Gus Mus.

Ia mengaku kenal dengan almarhumah sejak berkunjung ke kediaman Gus Mus dan menyebut istrinya yang lebih banyak kenal dengan Nyai Hj Siti Fatmah.

“(Terakhir ketemu) Sudah lama sekali. Ada acara apa ya. Pas dolan ke sini. Saat makan, diajak bareng. Itu saja. Beliau perempuan dan manusia yang baik,” ujarnya.

Senada dengan suaminya, Siti Atiqah menyebut almarhumah menunjukkan tanda keistimewaan karena sebelum berpulang ke hadirat Allah, Nyai Hj Siti Fatmah sempat mandi untuk membersihkan diri dulu.

“Kalau kita analisa, itu mempersiapkan diri sebaik-baiknya karena ingin menghadap. Dan meninggalnya di pelukan abah (KH Ahmad Mustofa Bisri),” ujarnya sambil berkaca-kaca.

Menurutnya, keikhlasan dan keramahan almarhumah kepada siapa pun serta kecintaannya kepada suami, anak, dan masyarakat, bisa dijadikan suri teladan bagi para perempuan di negeri ini.

“Kebetulan keluarga saya keluarga pesantren. Simbah saya tentu tahu beliau. Saya pun dari kanak-kanak tahu beliau, tapi kalau kenal secara pribadi dan intens, baru sejak Mas Ganjar di Jawa Tengah (Gubernur, red.),” katanya.

Nyai Hajah Siti Fatmah yang lahir pada 20 Maret 1950, wafat pada Kamis siang sekitar pukul 14.30, 30 Juni 2016 di RSUD dr R Soetrasno Rembang lantaran sakit sesak nafas.

Menurut rencana, jenazah almarhumah akan dimakamkan esok hari pukul 13.30 WIB atau selepas Salat Jumat di kompleks pemakaman keluarga di Desa Kabongan Kidul Kecamatan Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan