62.095 Kendaraan di Rembang Menunggak Pajak

Tuesday, 29 August 2017 | 18:36 WIB

Warga berjejal mengantre mendapat layanan di Kantor Samsat Rembang, Selasa (27/12/2016). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kantor Unit Pelayanan Pendapatan dan Pemberdayaan Aset Daerah (UP3AD) Rembang mencatat, sebanyak 62.095 kendaraan dari berbagai jenis di daerah ini menunggak pajak.

Jika diuangkan, nilai tunggakan pajak dari puluhan ribu kendaraan tersebut, sebesar Rp10,6 miliar.

Kepala UP3AD Rembang Njoto Legowo menyebutkan, catatan itu sejak Januari 2012 hingga Agustus 2017.

Rinciannya, dari yang menunggak pajak itu, sebanyak 57.578 unit atau senilai Rp6,9 miliar di antaranya merupakan kendaraan bermotor beroda, sedangkan sisanya atau 4.517 unit atau Rp3,7 miliar adalah kendaraan bermotor beroda empat.

“Jumlah penunggak pajak kendaraan bermotor beroda dua, cenderung meningkat pada tiap tahunnya. Jika dipersentase, tingkat tunggakan pajak naik sebesar lima persen dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya, Selasa (29/8/2017).

Guna menekan tingkat tunggakan pajak, Njoto menyatakan, Pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan berupa pembebasan denda atau pemutihan.

“Kebijakan itu sudah berlaku sejak 21 Agustus atau tiga hari yang lalu dan akan berakhir pada 30 September mendatang,” terangnya.

Namun, ia menyebutkan, dalam delapan hari ini, masyarakat yang memanfaatkan kesempatan tersebut, cenderung masih minim.

“Mungkin ada yang belum tahu kebijakan ini. Tapi kami sudah menyampaikan ke masyarakat melalui spanduk-spanduk yang telah kami pasang pada beberapa titik,” ujarnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat supaya segera melunasi pajak kendaraannya yang masih menunggak mumpun ada pembebasan denda.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan