10.000 Hektare Lahan Pertanian Berkurang Kesuburannya

Selasa, 11 Desember 2012 | 16:21 WIB

Ilustrasi

REMBANG – MataAirRadio.net, Sedikitnya 10.000 hektare lahan pertanian di Kabupaten Rembang dinyatakan mengalami pengurangan kesuburan antara lain akibat penggunaan berlebih pupuk anorganik.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Mulyono kepada reporter MataAir Radio, Selasa (11/12) menjelaskan, kesuburan tanah diukur dari tingkat keasaman atau kebasaannya atau biasa disebut Ph.

Ph tanah yang normal, kata Mulyono, berkisar di angka tujuh. Sementara Ph pada setidaknya 10.000 hektare tanah tadi berada jauh di bawah normal karena hanya berkisar pada angka 5,5.

Mulyono juga menyebutkan, karena data lahan yang berkurang kesuburannya itu terakhir kali terekam pada 2009, maka saat ini jumlahnya diperkirakan sudah bertambah.

Apalagi, tingkat kesadaran petani di Kabupaten Rembang untuk menggunakan pupuk organik masih terhitung rendah dan penggunaan pupuk kimia masih tinggi atau tidak proporsional.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Mulyono menambahkan, untuk berangsur memulihkan kesuburan lahan pertanian di Kabupaten Rembang, tahun ini sejumlah petani di Kecamatan Kaliori dan Kota Rembang mendapatkan bantuan pupuk organik dari Pemerintah Pusat, total sekitar 32 ton.

Mulyono menjamin pupuk organik bantuan dari Pemerintah tersebut sepenuhnya digunakan petani penerima. Ia pun berharap, petani lain yang tidak menerima bantuan, mulai menggunakan komposisi berimbang pemupukan.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang menyarankan petani menggunakan pupuk anorganik secara ideal yakni hanya 250 kilogram untuk satu hektare tanaman padi, dengan penggunaan pupuk organik mencapai 1.500 kilogram.

Penggunaan pupuk organik, kata Mulyono, memang tidak bisa langsung dilihat hasilnya dalam jangka pendek karena pupuk ini bekerja memulihkan tingkat kesuburan tanah. Bahkan di awal perilaku pemupukan berimbang, tanaman seperti tak tampak subur, namun petani diminta sabar untuk melihat perkembangan pada musim berikutnya. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan